RADARMUKOMUKO.COM - Di balik aroma yang kuat itu, petai menyimpan kekayaan nutrisi yang telah lama menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Konsumsi petai bukan sekadar kebiasaan kuliner, melainkan juga praktik pangan yang menyentuh aspek kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Petai, atau Parkia speciosa, tumbuh subur di wilayah tropis dan mudah ditemukan di pasar tradisional hingga warung makan. Sayuran ini biasa dikonsumsi dalam berbagai bentuk, mulai dari lalapan segar, sambal, hingga campuran sayur dan lauk.
Menurut ahli gizi masyarakat dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Lestari Widyaningrum, petai mengandung berbagai zat penting seperti serat pangan, protein nabati, vitamin B kompleks, kalium, fosfor, serta senyawa antioksidan.
“Petai sering dianggap remeh karena aromanya, padahal dari sisi gizi, ia cukup lengkap dan bermanfaat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar,” ujarnya. Kandungan tersebut berperan penting dalam menjaga fungsi metabolisme dan keseimbangan organ tubuh.
Salah satu manfaat utama dari konsumsi petai adalah dukungannya terhadap kesehatan pencernaan. Serat yang terkandung di dalamnya membantu melancarkan proses cerna dan menjaga kesehatan usus.
Dalam praktik sehari-hari, petai kerap disantap bersama makanan berlemak atau bersantan, dan secara tidak langsung membantu menyeimbangkan kerja sistem pencernaan.
Temuan dalam Journal of Nutrition and Metabolism menunjukkan bahwa asupan serat dari sumber nabati berkontribusi pada pencegahan sembelit dan menjaga kesehatan mikroflora usus.
Petai juga dikenal bermanfaat bagi kesehatan jantung. Kandungan kalium yang cukup tinggi membantu mengontrol tekanan darah dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.
Kalium berperan menetralkan efek natrium berlebih yang sering berasal dari pola makan tinggi garam. Dokter spesialis jantung, dr. Arief Prabowo, menyampaikan bahwa konsumsi bahan pangan kaya kalium seperti petai dapat mendukung kesehatan kardiovaskular. “Jika dikombinasikan dengan pola makan seimbang, petai dapat menjadi bagian dari diet yang ramah bagi jantung,” jelasnya.
Selain itu, petai berperan dalam menjaga kesehatan sistem saraf dan metabolisme energi. Vitamin B6 dan B1 yang terkandung di dalamnya membantu proses pembentukan energi dari makanan serta mendukung fungsi saraf.
Dalam kehidupan sehari-hari, manfaat ini terasa pada peningkatan stamina dan konsentrasi, terutama bagi mereka yang menjalani aktivitas fisik dan mental yang padat. Tidak mengherankan jika petai sering dijadikan pelengkap makanan oleh pekerja lapangan atau masyarakat yang membutuhkan asupan energi tambahan.
Manfaat lain yang sering dibicarakan adalah peran petai dalam membantu mengontrol kadar gula darah. Meski memiliki rasa khas, petai termasuk bahan pangan dengan indeks glikemik yang relatif rendah.
Seratnya membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Penelitian yang dimuat dalam Asian Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa konsumsi legum dan biji-bijian lokal seperti petai berpotensi mendukung pengelolaan gula darah jika dikonsumsi secara bijak.
Petai juga mengandung senyawa antioksidan alami yang membantu tubuh melawan radikal bebas. Senyawa ini berperan dalam melindungi sel dari kerusakan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.
Meski memiliki banyak manfaat, cara konsumsi petai tetap perlu diperhatikan. Mengonsumsinya secara berlebihan dapat menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi individu dengan gangguan ginjal, karena kandungan asam amino tertentu di dalamnya.