Lain halnya dengan pasukan Kedondong yang pada saat itu telah mengetahui rencana tersebut melalui mata-mata.
Mereka telah siap siaga menyusun strategi yang diberi nama “suluhan”. Strategi ini diterapkan pada saat pasukan Bagus Jabin melawan pasukan kolonial yang dipimpin oleh Letkol Hoorn di Kedondong. Strategi ini sengaja dilakukan pada malam hari dengan memanfaatkan kunang-kunang sebagai pengecoh pasukan kolonial yang ditugaskan berjaga di Jembatan Ciwaringin.
Pengecohan ini dilakukan agar lawan mengerahkkan seluruh isi senjatanya untuk menyerang kunang-kunang, maka saat persediaan senjata mereka telah habis maka dari arah belakang pasukan Kedongdong telah mengepung dan siap menyerang.
Strategi ini merupakan salah satu strategi yang diadaptasi dari strategi perang dalam lakon Wayang Perang Jayasuluhan.
Akhirnya setelah berbagai peristiwa yang telah terjadi hingga tahun 1818, gerakan perlawanan rakyat Cirebon yang dengan istilah “Perang Kedongdong” pun resmi berhenti.*