Ini Gejala Sakit Asam Urat dan Gejala Sakit Rematik
Ini Gejala Sakit Asam Urat dan Gejala Sakit Rematik--
RADARMUKOMUKO.COM - Rasa nyeri yang muncul tiba-tiba di persendian sering kali menjadi pengingat paling jujur bahwa tubuh memiliki batasnya. Di pagi hari, ketika langkah pertama terasa berat, atau saat malam terganggu oleh rasa berdenyut di jari kaki, banyak orang mulai bertanya-tanya dalam diam: apakah ini sekadar kelelahan, atau pertanda penyakit yang lebih serius.
Di tengah kebingungan itu, dua kondisi kerap menjadi sorotan asam urat dan rematik yang meski sama-sama menyerang sendi, memiliki karakter yang berbeda.
Asam urat, atau gout, terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat dan membentuk kristal di dalam sendi. Kondisi ini sering ditandai dengan nyeri yang datang mendadak, biasanya pada satu sendi saja, paling sering di jempol kaki.
Rasa sakitnya tajam, disertai kemerahan, bengkak, dan sensasi hangat pada area yang terkena. Serangan ini kerap terjadi pada malam hari, seolah datang tanpa peringatan. “Pasien sering bilang mereka tidak bisa menyentuh area yang sakit karena terlalu nyeri, bahkan terkena selimut saja terasa menyiksa,” jelas dr. Yudi.
Berbeda dengan asam urat, rematik atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sendi sendiri, menyebabkan peradangan kronis.
Gejala yang muncul cenderung lebih perlahan, dimulai dengan kekakuan pada sendi, terutama di pagi hari, yang bisa berlangsung lebih dari 30 menit. Nyeri biasanya terjadi di kedua sisi tubuh secara simetris, seperti pada kedua tangan atau kedua lutut.
Perbedaan pola serangan menjadi salah satu penanda utama. Asam urat hadir secara tiba-tiba dan intens, sementara rematik berkembang secara bertahap dan menetap. Selain itu, rematik tidak hanya menyerang sendi, tetapi juga dapat memengaruhi organ lain seperti mata, paru-paru, dan pembuluh darah. Kondisi ini membuat rematik menjadi penyakit yang lebih kompleks dan membutuhkan penanganan jangka panjang.
Sari, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun, pernah mengalami kebingungan serupa. Ia mengira nyeri di lutut dan pergelangan tangannya adalah asam urat, karena sering mendengar istilah tersebut di lingkungan sekitarnya.
Namun setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, dokter mendiagnosisnya dengan rematik. “Awalnya saya kira hanya karena makanan. Ternyata ini penyakit yang harus dikontrol terus,” tuturnya. Sejak saat itu, ia rutin menjalani pengobatan dan mulai mengubah pola hidupnya.
Pola makan memang memiliki peran besar dalam asam urat. Konsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan, seafood, dan daging merah dapat memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah.
Sementara itu, faktor risiko rematik lebih kompleks, melibatkan aspek genetik, hormonal, dan lingkungan. Perempuan diketahui memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki, terutama pada usia paruh baya.
Dalam praktik medis, diagnosis kedua kondisi ini memerlukan pendekatan yang berbeda. Pemeriksaan kadar asam urat dalam darah dapat membantu mengidentifikasi gout, sementara rematik biasanya didiagnosis melalui kombinasi pemeriksaan darah, pencitraan, serta evaluasi gejala klinis.
“Tidak semua nyeri sendi bisa disimpulkan hanya dari gejala. Pemeriksaan lanjutan sangat diperlukan untuk memastikan,” tambah dr. Yudi.
Penanganan yang tepat menjadi kunci untuk mengendalikan kedua penyakit ini. Pada asam urat, pengobatan difokuskan pada penurunan kadar asam urat dan meredakan peradangan saat serangan terjadi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
