Ayo Kenali Perbedaan Sakit Lambung dan Sakit Empedu
Ayo Kenali Perbedaan Sakit Lambung dan Sakit Empedu--
RADARMUKOMUKO.COM - Nyeri di perut bagian atas kerap datang tanpa undangan, menyelinap di sela aktivitas harian dan mengganggu ketenangan. Sebagian orang menganggapnya sebagai gangguan lambung biasa, sementara yang lain mulai cemas memikirkan kemungkinan yang lebih serius.
Di balik keluhan yang tampak serupa itu, terdapat dua kondisi yang kerap tertukar: sakit lambung dan sakit empedu. Memahami perbedaannya menjadi penting, bukan sekadar untuk meredakan rasa khawatir, tetapi juga untuk memastikan penanganan yang tepat sejak awal.
Di sebuah klinik kesehatan di Bengkulu, pada pertengahan Maret 2026, dokter umum dr. Rina Saputri mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dengan keluhan nyeri perut atas tanpa mengetahui penyebab pastinya.
“Keluhan sakit lambung dan gangguan empedu sering kali mirip, sehingga pasien cenderung mengira semuanya adalah maag. Padahal, penanganannya berbeda,” ujarnya saat ditemui usai melayani pasien.
Sakit lambung, yang dalam dunia medis kerap dikaitkan dengan gastritis atau penyakit asam lambung, biasanya ditandai dengan rasa perih atau terbakar di ulu hati.
Nyeri ini sering muncul ketika perut kosong, terlambat makan, atau setelah mengonsumsi makanan tertentu seperti pedas, asam, dan berkafein. Selain itu, penderita juga bisa merasakan mual, kembung, serta sering bersendawa. Dalam banyak kasus, keluhan ini membaik setelah makan atau mengonsumsi obat penetral asam lambung.
Berbeda dengan itu, sakit empedu umumnya berkaitan dengan gangguan pada kantong empedu, seperti batu empedu atau peradangan. Nyeri yang ditimbulkan memiliki karakter yang lebih tajam dan cenderung muncul di perut kanan atas, bahkan bisa menjalar hingga ke punggung atau bahu kanan.
Rasa sakit ini sering datang setelah mengonsumsi makanan berlemak, dan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan nyeri lambung. “Pasien dengan gangguan empedu biasanya mengeluhkan nyeri hebat yang datang tiba-tiba, terutama setelah makan besar. Kadang disertai mual dan muntah,” jelas dr. Rina.
Perbedaan lokasi dan pemicu nyeri menjadi kunci penting dalam mengenali kedua kondisi ini. Jika sakit lambung lebih dipengaruhi oleh pola makan yang tidak teratur, maka sakit empedu sering kali berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi, terutama yang tinggi lemak. Namun, dalam praktiknya, tidak semua gejala muncul secara khas. Ada kalanya pasien merasakan kombinasi gejala yang membuat diagnosis menjadi lebih kompleks.
Andi, seorang pegawai swasta berusia 38 tahun, pernah mengalami pengalaman yang membuka matanya tentang pentingnya memahami kondisi tubuh. Ia mengira nyeri yang dirasakannya hanyalah maag kambuh akibat kesibukan kerja.
Namun, setelah rasa sakit semakin intens dan menjalar ke punggung, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya batu empedu yang memerlukan penanganan lebih lanjut. “Awalnya saya tidak menyangka, karena selama ini saya sering sakit maag. Ternyata beda sekali rasanya kalau sudah kena empedu,” ungkapnya.
Kisah seperti Andi bukanlah hal yang jarang terjadi. Banyak orang menunda pemeriksaan karena menganggap keluhan yang dirasakan tidak berbahaya. Padahal, baik sakit lambung maupun gangguan empedu memiliki risiko komplikasi jika tidak ditangani dengan benar.
Pada kasus lambung, peradangan yang terus-menerus dapat menyebabkan luka pada dinding lambung. Sementara itu, batu empedu yang tidak diatasi bisa memicu infeksi hingga penyumbatan saluran empedu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
