DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Perang Iran vs Israel dan Amerika Berdampak pada Harga CPO, Ini Kata Pengamat Ekonomi

Perang Iran vs Israel dan Amerika Berdampak pada Harga CPO, Ini Kata Pengamat Ekonomi

Pungutan Ekspor CPO Sawit 7,5 Persen Ditinjau Ulang Oleh Pemerintah--Sumber Foto : sawitindonesia.com

RADARMUKOMUKO.COM -  Ketika dentuman konflik terdengar ribuan kilometer dari kebun-kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan, getarannya ternyata ikut terasa di lantai bursa komoditas dunia. Ketegangan antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat bukan sekadar isu geopolitik yang jauh dari keseharian petani. 

Ia menjalar cepat melalui jalur energi, logistik, dan sentimen pasar, lalu bermuara pada satu komoditas yang menjadi andalan Indonesia: crude palm oil atau CPO.

Sejak eskalasi konflik meningkat pada awal tahun ini di kawasan Timur Tengah, harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi tajam. Jalur distribusi energi global, terutama di sekitar Selat Hormuz, menjadi sorotan. 

Di tengah ketidakpastian itu, pasar merespons dengan cara yang bisa ditebak: spekulasi meningkat, harga energi merangkak naik, dan komoditas berbasis minyak nabati ikut terdorong. CPO termasuk yang terdampak.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Rudi Hartono, menilai hubungan antara konflik dan harga CPO tidak berdiri sendiri. “Pasar komoditas itu saling terhubung. 

Ketika harga minyak mentah naik akibat konflik, harga biodiesel dan minyak nabati ikut terdorong karena dianggap sebagai substitusi energi,” ujarnya saat dihubungi, Selasa lalu. 

Menurut dia, investor global cenderung mengalihkan portofolio ke komoditas yang dinilai lebih aman ketika risiko geopolitik meningkat.

Data dari Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan harga CPO sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir, mengikuti kenaikan harga minyak mentah Brent. 

Kenaikan tersebut tidak selalu stabil, namun cukup memberi sinyal bahwa pasar melihat adanya potensi gangguan pasokan energi global. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia berada dalam posisi strategis, sekaligus rentan terhadap gejolak eksternal.

Di Riau, salah satu sentra sawit nasional, kabar kenaikan harga CPO disambut dengan harapan oleh para petani. Sulaiman, petani sawit swadaya di Kabupaten Siak, mengaku harga tandan buah segar di tingkat petani mulai menunjukkan perbaikan. 

“Beberapa bulan lalu harga turun, sekarang sudah lumayan naik. Kami dengar karena perang di luar negeri, tapi yang penting bagi kami harga stabil,” katanya.

Namun di balik optimisme itu, para analis mengingatkan bahwa kenaikan harga akibat konflik bersifat sementara dan sarat ketidakpastian. 

Dr. Rudi menegaskan bahwa dampak jangka panjang sangat bergantung pada seberapa lama konflik berlangsung dan sejauh mana ia mengganggu jalur perdagangan internasional. “Kalau ketegangan mereda, harga bisa kembali terkoreksi. Pasar sangat sensitif terhadap sentimen,” ujarnya.

Selain faktor energi, konflik juga memengaruhi biaya logistik global. Ketika risiko pelayaran meningkat di kawasan Timur Tengah, premi asuransi kapal dan biaya pengiriman bisa naik. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: