Karomah Utsman bin Affan dalam Lembutnya Kepemimpinan dan Cahaya Kedermawanan

Karomah Utsman bin Affan dalam Lembutnya Kepemimpinan dan Cahaya Kedermawanan

--

RADARMUKOMUKO.COM -  Madinah suatu siang pernah berada dalam kegelisahan. Sumur-sumur mengering, harga air melonjak, dan masyarakat merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan paling dasar. 

Di tengah situasi itu, seorang sahabat Nabi yang dikenal pemalu dan lembut melangkah tanpa banyak bicara. Ia membeli sebuah sumur milik seorang Yahudi dan mewakafkannya untuk umat. Sejak saat itu, air kembali mengalir bebas bagi penduduk kota. 

Lelaki itu adalah Utsman bin Affan, khalifah ketiga dalam sejarah Islam, yang namanya lekat dengan kedermawanan, kesabaran, dan karomah yang memancar dari ketulusan imannya.

Utsman lahir di Makkah dari Bani Umayyah, keluarga terpandang Quraisy. Ia termasuk golongan awal yang memeluk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sejak muda, ia dikenal sebagai saudagar sukses yang jujur dan berakhlak halus. 

Ketika Islam masih menghadapi tekanan hebat di Makkah, Utsman ikut berhijrah ke Habasyah bersama istrinya, Ruqayyah, putri Rasulullah SAW. Kesetiaannya kepada Islam teruji sejak awal, jauh sebelum ia memegang tampuk kekuasaan.

Salah satu karomah yang paling dikenang dari Utsman adalah peristiwa pembelian Sumur Raumah di Madinah pada tahun-tahun awal hijrah. 

Sumur itu menjadi satu-satunya sumber air tawar yang layak, tetapi pemiliknya menjual air dengan harga tinggi. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang membeli sumur tersebut dan mewakafkannya akan mendapat balasan surga. 

Tanpa ragu, Utsman menebusnya dengan harga besar dan menyerahkannya untuk kepentingan umat. 

Hingga kini, menurut catatan sejarah yang dihimpun dalam karya Ibnu Sa’d Ath-Thabaqat al-Kubra, sumur itu tetap memberi manfaat dan hasil wakafnya berkembang menjadi aset produktif bagi kaum Muslimin. Banyak ulama memandang keberlanjutan manfaat tersebut sebagai bentuk karomah yang Allah abadikan melalui amal saleh Utsman.

Karomah Utsman juga tampak dalam peristiwa persiapan Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah. Ketika pasukan Muslim kekurangan logistik dan kendaraan, Utsman menyumbangkan ratusan unta lengkap dengan perbekalannya, bahkan emas dalam jumlah besar. 

Dalam riwayat Imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda setelah melihat kontribusinya, “Tidak ada yang membahayakan Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.” Pernyataan itu menjadi isyarat keutamaan luar biasa yang Allah karuniakan kepadanya.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ahji, penulis biografi sahabat Nabi, keistimewaan Utsman tidak terletak pada keajaiban yang bersifat spektakuler, melainkan pada konsistensi amal dan ketulusan niatnya.

“Karomah Utsman adalah keberkahan yang terus mengalir dari hartanya karena ia memisahkan antara kepemilikan pribadi dan amanah umat,” tulisnya dalam kajian tentang khulafaur rasyidin.

Saat diangkat menjadi khalifah pada tahun 644 M menggantikan Umar bin Khattab, Utsman memimpin wilayah Islam yang telah membentang luas hingga Persia dan Afrika Utara. Tantangan politik dan sosial semakin kompleks. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: