Karomah Utsman bin Affan dalam Lembutnya Kepemimpinan dan Cahaya Kedermawanan
--
Dalam masa pemerintahannya, ia mengambil keputusan monumental untuk menyatukan mushaf Al-Qur’an dalam satu standar bacaan. Langkah ini diambil ketika perbedaan dialek mulai menimbulkan perselisihan di wilayah-wilayah baru Islam. Dengan membentuk tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit, Utsman memastikan mushaf resmi disalin dan dikirim ke berbagai provinsi.
Sejarawan Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menilai kebijakan kodifikasi mushaf tersebut sebagai bentuk ilham dan kebijaksanaan yang lahir dari ketakwaan.
“Keputusan Utsman menjaga kemurnian Al-Qur’an adalah karomah terbesar yang berdampak lintas zaman. Hingga hari ini, umat Islam membaca mushaf dengan standar yang ia tetapkan,” tulisnya.
Kepribadian Utsman yang lembut sering kali disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, di balik sikap malunya, tersimpan keteguhan hati yang luar biasa.
Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa malaikat pun merasa malu kepada Utsman, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Kesucian akhlaknya menjadi cahaya yang memengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Menjelang akhir masa kepemimpinannya, ujian berat datang dalam bentuk fitnah politik dan pemberontakan. Rumahnya dikepung selama berhari-hari. Para sahabat menawarkan perlindungan bersenjata, tetapi Utsman menolak pertumpahan darah di kota Nabi.
Ia memilih bersabar, meski tahu nyawanya terancam. Dalam riwayat yang dicatat Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, Utsman menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan membaca Al-Qur’an. Ia wafat pada tahun 656 M dalam keadaan berpuasa, sementara mushaf berada di pangkuannya.
Banyak ulama memandang wafatnya Utsman sebagai kesyahidan yang telah dikabarkan Rasulullah sebelumnya.
Kesabarannya menghadapi fitnah tanpa membalas dengan kekerasan menjadi pelajaran moral yang mendalam. Karomahnya tidak hanya tercermin pada peristiwa luar biasa, tetapi pada keteguhan menjaga persatuan dan menghindari pertumpahan darah.
Hingga kini, nama Utsman bin Affan dikenang sebagai sosok dermawan yang hartanya menjadi jembatan kemaslahatan umat.
Sumur Raumah yang terus memberi manfaat dan mushaf Al-Qur’an yang menyatukan bacaan kaum Muslimin menjadi warisan nyata dari ketulusan imannya. Dalam dirinya, kekayaan tidak melahirkan kesombongan, dan kekuasaan tidak menghapus rasa malu kepada Allah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: