Ini Penyebab Sawit Sulit Berbuah
Ini Penyebab Sawit Sulit Berbuah--
RADARMUKOMUKO.COM - Di tengah hamparan kebun yang semestinya menjanjikan tandan-tandan segar berwarna jingga kemerahan, ada kalanya pohon-pohon kelapa sawit berdiri tanpa hasil. Pelepahnya tampak hijau, batangnya kokoh, tetapi buah yang dinanti tak kunjung muncul.
Bagi petani, situasi ini bukan hanya soal tanaman yang enggan berproduksi, melainkan tentang harapan yang tertunda dan perhitungan ekonomi yang berubah arah.
Fenomena sawit sulit berbuah kerap terjadi di berbagai sentra perkebunan, baik pada kebun rakyat maupun perusahaan. Penyebabnya beragam dan sering kali saling berkaitan.
Di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, sejumlah petani mengeluhkan tanaman berusia empat hingga lima tahun yang belum menunjukkan produksi optimal. Padahal, pada umur tersebut, sawit umumnya telah memasuki fase menghasilkan.
“Banyak yang mengira sawit pasti berbuah setelah tiga tahun tanam. Padahal, syarat tumbuhnya harus benar-benar terpenuhi sejak awal,” ujar Dedi Kurniawan, penyuluh pertanian lapangan yang mendampingi kelompok tani di wilayah itu. Ia menjelaskan bahwa kualitas bibit menjadi fondasi utama.
Bibit yang tidak bersertifikat atau berasal dari sumber tak jelas kerap menghasilkan tanaman dengan produktivitas rendah. Secara fisik mungkin tampak normal, tetapi secara genetik tidak memiliki potensi hasil yang baik.
Selain faktor bibit, kesuburan tanah memegang peranan penting. Kelapa sawit dikenal sebagai tanaman yang rakus unsur hara. Tanpa pemupukan yang tepat dan berimbang, pertumbuhan generatif dapat terganggu.
Di beberapa kebun rakyat, pemupukan sering kali dilakukan sekadarnya, bahkan ada yang menunda karena keterbatasan biaya. Akibatnya, tanaman lebih banyak membentuk daun daripada bunga dan buah.
Kondisi tanah yang masam dan miskin unsur hara mikro seperti boron dan magnesium juga memengaruhi pembentukan bunga betina. “Jika defisiensi hara berlangsung lama, bunga yang muncul cenderung menjadi bunga jantan atau bahkan gagal berkembang,” kata Dr. Rina Marlina, peneliti agronomi dari sebuah perguruan tinggi di Sumatera Utara.
Ia menambahkan bahwa keseimbangan nutrisi sangat menentukan rasio bunga jantan dan betina, yang pada akhirnya memengaruhi jumlah tandan yang terbentuk.
Faktor lingkungan turut berperan besar. Curah hujan yang terlalu tinggi atau sebaliknya kekeringan panjang dapat mengganggu proses fisiologis tanaman. Sawit membutuhkan distribusi air yang merata sepanjang tahun.
Di wilayah dengan drainase buruk, genangan air membuat akar kekurangan oksigen dan menghambat penyerapan hara. Sementara pada musim kemarau ekstrem, stres air menyebabkan pembentukan bunga tertunda.
Serangan hama dan penyakit juga menjadi penyebab yang tak bisa diabaikan. Penyakit busuk pangkal batang akibat jamur Ganoderma boninense, misalnya, bukan hanya mematikan tanaman, tetapi juga menurunkan produktivitas sebelum pohon benar-benar tumbang.
Begitu pula serangan kumbang tanduk pada fase muda yang merusak titik tumbuh, dapat menghambat perkembangan tanaman hingga berdampak pada fase berbuah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: