Ini Efek bagi Kesehatan Jika Selalu Main HP
Ini Efek bagi Kesehatan Jika Selalu Main HP--
RADARMUKOMUKO.COM - Layar kecil itu tak pernah benar-benar padam. Ia menyala di ruang tamu, di kamar tidur, di warung kopi, bahkan di sela-sela percakapan keluarga. Telepon genggam kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan perpanjangan tangan manusia modern. Namun di balik kemudahannya, kebiasaan selalu bermain ponsel menyimpan konsekuensi yang kerap luput disadari.
Di Kota Bengkulu, beberapa waktu lalu, seorang dokter umum di salah satu klinik swasta, dr. Rina Mahardika, mengaku semakin sering menerima pasien dengan keluhan yang serupa.
“Keluhan nyeri leher, mata perih, sulit tidur, hingga rasa cemas berlebihan kini banyak dialami anak muda dan bahkan orang tua. Hampir semuanya mengaku menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel,” ujarnya saat ditemui di ruang praktiknya, awal pekan ini.
Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari lima jam per hari menatap layar ponsel.
Aktivitas itu mencakup berselancar di media sosial, menonton video, bermain gim, hingga bekerja. Intensitas penggunaan yang tinggi, terutama tanpa jeda, menjadi pintu masuk berbagai gangguan kesehatan.
Salah satu dampak paling nyata terlihat pada kesehatan mata. Paparan cahaya biru dari layar dalam waktu lama dapat memicu kelelahan mata digital atau digital eye strain.
Gejalanya meliputi mata kering, penglihatan kabur, sakit kepala, dan rasa tidak nyaman di sekitar mata. “Mata manusia sebenarnya tidak dirancang untuk fokus pada layar kecil dalam waktu lama. Otot mata dipaksa bekerja terus-menerus,” jelas dr. Rina.
Tak hanya mata, postur tubuh pun terdampak. Posisi menunduk saat menggunakan ponsel memicu kondisi yang dikenal sebagai “text neck”. Otot leher dan bahu menahan beban kepala yang condong ke depan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan nyeri kronis dan gangguan pada tulang belakang. Fisioterapis di RSUD M. Yunus, Andika Pratama, menuturkan bahwa pasien usia produktif kini banyak datang dengan keluhan tegang pada leher dan punggung atas. “Jika dulu didominasi pekerja berat, sekarang mahasiswa dan pekerja kantoran yang terlalu lama bermain ponsel juga mengalami hal serupa,” katanya.
Dampak lain yang tak kalah penting menyentuh aspek psikologis. Paparan konten media sosial yang terus-menerus dapat memicu kecemasan, stres, hingga gangguan tidur.
Cahaya biru yang dipancarkan layar ponsel diketahui menghambat produksi hormon melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, seseorang menjadi sulit terlelap meski tubuh lelah.
Psikolog klinis, Nur Aisyah, M.Psi., menjelaskan bahwa penggunaan ponsel tanpa kontrol juga berpotensi menimbulkan ketergantungan. “Ada dorongan untuk terus memeriksa notifikasi, takut tertinggal informasi, atau merasa harus selalu terhubung. Ini yang disebut fear of missing out. Jika tidak dikelola, dapat memicu stres dan menurunkan kualitas hidup,” paparnya.
Di kalangan anak-anak dan remaja, dampaknya bahkan lebih kompleks. Selain gangguan mata dan postur, penggunaan ponsel berlebihan berisiko memengaruhi perkembangan sosial. Interaksi tatap muka berkurang, kemampuan membaca ekspresi dan empati bisa terhambat.
Guru SMP di Kabupaten Mukomuko, Yuliana Sari, mengungkapkan bahwa beberapa siswanya menunjukkan penurunan konsentrasi belajar. “Mereka sulit fokus di kelas karena terbiasa dengan stimulasi cepat dari gim dan media sosial,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: