Begini Cara Memupuk Pohon Sawit di Tanah Gambut

Begini Cara Memupuk Pohon Sawit di Tanah Gambut

Begini Cara Memupuk Pohon Sawit di Tanah Gambut--

RADARMUKOMUKO.COM -  Jika tanah yang dipijak terasa empuk dan basah, menyimpan jejak air yang tak pernah benar-benar pergi itulah lahan gambut. 

Di atas lahan gambut yang rapuh sekaligus kaya bahan organik inilah ribuan batang kelapa sawit tumbuh, menggantungkan harapan petani pada tandan-tandan buah yang memerah. Namun di balik hijaunya kebun, ada pekerjaan sunyi yang menentukan masa depan panen: cara memupuk yang tepat.

Tanah gambut bukanlah tanah biasa. Ia terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tanaman yang membusuk selama ratusan tahun, mengandung bahan organik tinggi tetapi miskin unsur hara esensial seperti nitrogen, fosfor, kalium, serta unsur mikro. 

Di Kecamatan Air Manjunto, Mukomuko, Bengkulu, persoalan ini menjadi perhatian utama para petani sejak mulai pohon sawit ditanam, terutama ketika produktivitas kebun mereka menurun meski pohon terlihat subur.

“Banyak yang mengira tanah gambut itu sudah kaya karena warnanya hitam dan tebal. Padahal, unsur haranya sering tidak seimbang dan mudah tercuci,” ujar Rudi Hartono, penyuluh pertanian lapangan setempat, ditemui pertengahan Februari 2026. 

Ia menjelaskan bahwa kesalahan pemupukan bukan hanya membuat biaya membengkak, tetapi juga berdampak pada kesehatan tanaman dalam jangka panjang.

Di lahan gambut, air menjadi faktor kunci. Struktur tanah yang berpori membuat unsur hara mudah hanyut terbawa air, terutama saat curah hujan tinggi. Karena itu, pemupukan tidak bisa dilakukan sembarangan, baik dari segi dosis, jenis pupuk, maupun waktu aplikasi. 

Rudi menekankan pentingnya analisis tanah sebelum menentukan formula pupuk. “Kami mendorong petani melakukan uji tanah minimal dua tahun sekali agar tahu kebutuhan riil kebunnya,” katanya.

Berdasarkan hasil pendampingan dan rekomendasi dari sejumlah penelitian, pemupukan sawit di tanah gambut umumnya difokuskan pada penambahan nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), magnesium (Mg), serta unsur mikro seperti tembaga (Cu) dan seng (Zn). Namun, pendekatannya berbeda dibandingkan tanah mineral. Pupuk tidak cukup ditebar begitu saja di permukaan.

Di kebun milik Suyanto, petani sawit yang telah mengelola lahan gambut lebih dari 15 tahun, teknik pemupukan dilakukan dengan membuat piringan bersih di sekitar batang pohon, berjarak sekitar 1–2 meter dari pangkal. 

Pupuk ditabur merata di atas permukaan tanah yang telah dibersihkan dari gulma, lalu ditutup tipis dengan serasah atau sisa pelepah untuk mengurangi penguapan dan pencucian. “Kalau langsung kena air hujan deras, pupuk bisa hilang sebelum diserap akar. Jadi kami atur waktunya, biasanya awal musim hujan dengan intensitas sedang,” tutur Suyanto.

Selain pupuk kimia, penggunaan bahan organik tambahan juga menjadi strategi penting. Kompos, tandan kosong kelapa sawit, dan pupuk kandang membantu memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kapasitas tukar kation, sehingga unsur hara lebih mudah diikat dan diserap akar. 

Di beberapa kebun percontohan, aplikasi tandan kosong yang dicacah dan disebar di antara barisan tanaman terbukti membantu menjaga kelembapan dan menekan pertumbuhan gulma.

Namun pemupukan bukan sekadar soal menambah nutrisi. Di tanah gambut, pengelolaan tinggi muka air turut menentukan keberhasilan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: