Deretan Mobil Tua yang Haus BBM
Deretan Mobil Tua yang Haus BBM--
RADARMUKOMUKO.COM - Deru mesin lama itu terdengar berat, seperti napas panjang yang dipaksakan menembus waktu. Di tengah arus kendaraan modern yang kian efisien dan senyap, sejumlah mobil keluaran era 1980-an hingga awal 2000-an masih setia melaju di jalanan Indonesia.
Namun di balik pesonanya yang klasik dan bodinya yang kokoh, ada satu konsekuensi yang tak bisa diabaikan: konsumsi bahan bakar yang tergolong boros.
Fenomena ini bukan sekadar cerita dari bangku bengkel. Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, para pemilik mobil tua mengakui bahwa biaya operasional menjadi pertimbangan serius, terutama sejak harga bahan bakar mengalami penyesuaian dalam beberapa tahun terakhir.
Mobil-mobil seperti Toyota Kijang generasi awal, Mitsubishi L300 lawas, Nissan Terrano, hingga sedan-sedan besar seperti Toyota Crown dan BMW seri lama, dikenal memiliki mesin berkapasitas besar dengan teknologi pembakaran yang belum seefisien kendaraan modern.
Budi Santoso, mekanik senior di kawasan Otista, Jakarta Timur, menjelaskan bahwa karakter mesin lama memang berbeda. “Dulu teknologi injeksi belum secanggih sekarang. Banyak mobil masih pakai karburator atau sistem injeksi awal yang belum optimal.
Akibatnya, campuran udara dan bahan bakar kurang presisi, sehingga konsumsi BBM lebih tinggi,” ujarnya ketika ditemui di bengkelnya, awal pekan ini. Menurut Budi, mobil-mobil tersebut bisa mencatat konsumsi 1 liter untuk 6–8 kilometer dalam pemakaian dalam kota, angka yang cukup jauh dibanding mobil modern yang bisa mencapai 12–15 kilometer per liter.
Di Bandung, Arif Rahman, seorang kolektor mobil klasik, mengakui bahwa hobinya menuntut komitmen finansial ekstra. Ia memiliki sedan Eropa keluaran 1990-an dengan mesin 2.500 cc. “Sekali isi penuh rasanya cepat sekali habis, apalagi kalau dipakai harian. Tapi bagi saya, sensasi berkendara dan nilai historisnya tak tergantikan,” katanya. Bagi Arif, konsumsi BBM bukan sekadar angka, melainkan bagian dari konsekuensi merawat sejarah otomotif.
Selain faktor teknologi mesin, bobot kendaraan turut memengaruhi konsumsi bahan bakar. Mobil-mobil tua umumnya memiliki rangka dan bodi yang lebih tebal serta minim material ringan seperti aluminium atau baja ringan berkekuatan tinggi yang kini lazim digunakan. Desain aerodinamika pun belum menjadi fokus utama pada masa itu. Kombinasi ini membuat mesin bekerja lebih keras, terutama dalam kondisi lalu lintas padat.
Pengamat otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rendra Wicaksono, menilai bahwa perubahan standar efisiensi bahan bakar secara global mendorong produsen untuk berinovasi dalam dua dekade terakhir.
“Regulasi emisi dan tuntutan efisiensi energi membuat teknologi mesin berkembang pesat. Sistem injeksi elektronik, variable valve timing, hingga penggunaan turbo kecil membuat mobil modern lebih hemat tanpa mengorbankan performa,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa mobil tua dirancang pada era ketika harga bahan bakar relatif lebih terjangkau dan regulasi emisi belum seketat sekarang.
Meski demikian, mobil tua yang haus BBM tetap memiliki pasar tersendiri. Di sejumlah daerah, kendaraan niaga lama masih dipertahankan karena kemudahan perawatan dan ketangguhan di medan berat.
Bagi sebagian pelaku usaha kecil, biaya bahan bakar yang lebih tinggi masih dianggap sepadan dengan daya angkut dan daya tahan kendaraan tersebut. Pilihan ini sering kali didasarkan pada pertimbangan jangka panjang dan pengalaman pribadi.
Upaya mengurangi konsumsi BBM pada mobil tua sebenarnya bisa dilakukan, meski hasilnya tidak selalu signifikan. Perawatan rutin, penyetelan ulang karburator atau sistem injeksi, serta penggunaan bahan bakar dengan oktan sesuai rekomendasi pabrikan dapat membantu menjaga efisiensi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: