Roti Sourdough: Tren Roti yang Tak Lekang oleh Waktu, Simbol Kelezatan dan Kesehatan!
Roti Sourdough: Tren Roti yang Tak Lekang oleh Waktu, Simbol Kelezatan dan Kesehatan!--
RADARMUKOMUKO.COM - Di tengah gempuran produk roti modern yang diproduksi secara massal dan instan, muncul kembali sebuah tren kuliner kuno yang justru semakin bersinar: Sourdough. Roti yang dikenal dengan tekstur kulitnya yang renyah dan bagian dalam yang kenyal ini bukan sekadar tren sesaat. Sourdough adalah representasi dari kembalinya manusia ke cara-cara tradisional yang lebih menghargai proses, rasa, dan kesehatan tubuh.
Warisan Ribuan Tahun yang Kembali Relevan
Sourdough dianggap sebagai salah satu teknik pembuatan roti tertua di dunia, dengan jejak sejarah yang merujuk pada peradaban Mesir Kuno sekitar tahun 1.500 SM. Berbeda dengan roti komersial yang menggunakan ragi instan pabrikan, sourdough mengandalkan "starter" atau ragi alami yang merupakan hasil fermentasi tepung dan air. Di dalam starter ini, bakteri baik (Lactobacillus) dan ragi liar bekerja secara harmonis menciptakan kehidupan.
Keunikan sourdough terletak pada proses fermentasi yang memakan waktu lama, seringkali antara 12 hingga 48 jam. Proses lambat inilah yang memberikan profil rasa asam yang khas (tangy), aroma yang dalam, serta tekstur yang tidak bisa ditiru oleh roti biasa.
Simbol Kesehatan dalam Setiap Irisan
Mengapa sourdough dianggap lebih sehat? Kuncinya ada pada proses fermentasi panjang tersebut. Selama masa inkubasi, bakteri asam laktat memecah asam fitat yang terkandung dalam gandum. Asam fitat seringkali menghalangi penyerapan mineral penting seperti zat besi, seng, dan magnesium oleh tubuh. Dengan berkurangnya asam fitat, nutrisi dalam roti menjadi lebih mudah diserap.
Selain itu, sourdough memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan roti putih biasa. Ini berarti sourdough tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis, menjadikannya pilihan yang lebih aman bagi mereka yang memperhatikan kadar gula darah. Bagi individu dengan sensitivitas gluten ringan, sourdough seringkali lebih mudah dicerna karena proses fermentasi telah "memecah" sebagian besar protein gluten sebelum roti tersebut masuk ke sistem pencernaan kita.
Kelezatan yang Autentik dan Memikat
Dari sisi gastronomi, sourdough adalah primadona. Lapisan luarnya yang cokelat keemasan dan keras memberikan sensasi crunchy yang memuaskan, sementara bagian dalamnya yang berongga (open crumb) terasa lembut dan lembap. Rasa asamnya yang halus justru memperkuat cita rasa alami gandum, membuatnya sangat cocok dipadukan dengan berbagai topping—mulai dari olesan mentega dingin, alpukat, hingga menjadi pendamping sup hangat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: