Ini Alasan Orang Tua di Jepang Dibuang ke Hutan

Ini Alasan Orang Tua di Jepang Dibuang ke Hutan

Ini Alasan Orang Tua di Jepang Dibuang ke Hutan--

RADARMUKOMUKO.COM - Di pegunungan Jepang kerap hadir dalam kisah-kisah lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik keheningan hutan dan lereng terjal, tersimpan satu cerita kelam tentang praktik pembuangan orang tua yang dikenal dalam folklor Jepang sebagai ubasute. 

Kisah ini bukan sekadar legenda tanpa makna, melainkan cermin dari tekanan sosial, ekonomi, dan budaya yang pernah membentuk keputusan-keputusan ekstrem dalam sejarah masyarakat Jepang.

Ubasute merujuk pada praktik meninggalkan orang tua lanjut usia di daerah terpencil seperti gunung atau hutan, biasanya ketika mereka dianggap tidak lagi mampu berkontribusi bagi keluarga. 

Tradisi ini diyakini muncul pada periode-periode sulit, terutama pada era Edo, ketika kelaparan, kemiskinan, dan keterbatasan sumber daya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. 

Dalam kondisi tersebut, keluarga dihadapkan pada pilihan yang nyaris mustahil antara mempertahankan seluruh anggota keluarga atau memastikan kelangsungan hidup generasi yang lebih muda.

Profesor Hiroshi Tanaka, sejarawan budaya dari University of Tokyo, menjelaskan bahwa ubasute tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. “Praktik ini muncul bukan karena hilangnya rasa kasih sayang, melainkan sebagai respons ekstrem terhadap krisis pangan dan struktur sosial yang sangat keras. 

Dalam masyarakat agraris tertutup, satu mulut tambahan bisa menentukan hidup dan mati,” ujarnya dalam sebuah wawancara akademik tentang tradisi rakyat Jepang.

Di berbagai daerah pegunungan seperti Shinano dan wilayah Tohoku, kisah ubasute hidup dalam bentuk cerita rakyat, lagu, dan teater tradisional. Cerita-cerita ini sering menggambarkan anak yang dengan berat hati menggendong orang tuanya ke gunung, diiringi rasa bersalah yang mendalam. 

Dalam beberapa versi, sang orang tua justru menerima nasib tersebut sebagai bentuk pengorbanan demi anak dan cucunya. Narasi ini menunjukkan bagaimana nilai pengorbanan dan loyalitas keluarga dipahami secara berbeda dalam konteks sosial masa lalu.

Alasan lain yang mendorong lahirnya praktik ini adalah struktur keluarga tradisional Jepang yang sangat menekankan produktivitas. Masyarakat kala itu memandang peran individu terutama dari kemampuannya bekerja dan mendukung ekonomi rumah tangga. 

Ketika usia lanjut datang bersama penyakit dan keterbatasan fisik, posisi orang tua menjadi rentan. Dalam situasi ekstrem, mereka dianggap sebagai beban, sebuah pandangan yang kini terdengar kejam, tetapi pernah dianggap rasional dalam kondisi keterbatasan absolut.

Antropolog Jepang, Dr. Keiko Nakamura, dalam penelitiannya tentang lansia dalam folklor Jepang, menyebut bahwa ubasute lebih banyak hidup sebagai simbol moral ketimbang praktik massal. “Bukti historis menunjukkan bahwa kasus nyata pembuangan orang tua sangat jarang. Namun cerita tentangnya digunakan untuk mengajarkan nilai bakti, empati, dan konsekuensi dari keputusan tidak manusiawi,” katanya. Dengan kata lain, ubasute menjadi alat refleksi sosial yang menggugah nurani, bukan sekadar catatan kebiasaan.

Memasuki Jepang modern, praktik ini secara nyata tidak lagi dilakukan. Sistem kesejahteraan sosial, asuransi kesehatan nasional, serta perubahan nilai keluarga telah menghapus alasan-alasan material yang dulu melatarbelakangi ubasute. 

Namun, bayang-bayangnya masih terasa dalam diskursus tentang penuaan penduduk. Jepang saat ini dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi lansia tertinggi di dunia, menghadapi tantangan baru berupa kesepian, keterasingan sosial, dan tekanan ekonomi keluarga muda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: