Rendemen Jadi Taruhan, Pekebun Sawit Bengkulu Diperkuat dari Teknik Budidaya hingga Panen
endemen menjadi taruhan nilai ekonomi sawit rakyat Bengkulu. Penguatan teknik budidaya, panen, dan pascapanen menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas TBS dan harga yang diterima pekebun.-RADARMUKOMUKO.COM-Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, AKPY, BPDP, Ditjen Perkebunan
BENGKULU – Rendemen menjadi salah satu taruhan nilai ekonomi sawit rakyat. Untuk menjaganya, pekebun Bengkulu perlu memperkuat pengelolaan kebun sejak budidaya hingga panen dan pascapanen, karena kualitas TBS yang menentukan hasil minyak tidak hanya dibentuk di pabrik, tetapi dimulai dari kebun.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., mengatakan kualitas TBS masih menjadi tantangan sawit rakyat Bengkulu dan turut memengaruhi harga yang diterima pekebun.
“Masih banyak permasalahan di lapangan. Harga TBS kita lebih rendah dari provinsi tetangga karena diklaim perusahaan pembeli bahwa kualitas kita belum sebagus di provinsi tetangga,” ujar Sri Herlin saat membuka Pelatihan Teknis Budidaya serta Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit dalam Program SDMP 2026 di Bengkulu, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, upaya menjaga kualitas TBS harus dilakukan secara menyeluruh. Budidaya dan pemeliharaan tanaman menjadi tahap awal, kemudian dilanjutkan dengan penentuan matang panen, teknik memanen, hingga penanganan TBS setelah dipanen.
“Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” katanya.
Artinya, banyaknya TBS yang dihasilkan belum cukup untuk menjamin nilai ekonomi maksimal. Buah yang telah dihasilkan melalui budidaya yang baik tetap berisiko kehilangan nilai apabila dipanen atau ditangani secara tidak tepat.
Oleh karena itu, penguatan kemampuan pekebun menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas hasil kebun. Pengalaman yang telah dimiliki pekebun perlu diperkuat dengan data, teori, dan praktik teknis agar keputusan di lapangan semakin tepat.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pengalaman merupakan modal penting bagi pekebun, tetapi tantangan perkebunan yang semakin kompleks membutuhkan penguatan pengetahuan.
“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujarnya.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang dilaksanakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Sebanyak 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara mengikuti pelatihan pada 27 Agustus–1 September 2026. Sebanyak 47 peserta dari Mukomuko mengikuti teknis budidaya, 29 peserta mengikuti teknis panen dan pascapanen, sedangkan 80 peserta dari Bengkulu Utara mengikuti teknis budidaya.
Pembelajaran dilakukan melalui kelas, praktik lapangan, dan field trip. Menurut Dr. Idum, perpaduan teori dan praktik tersebut penting agar pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara langsung dalam pengelolaan kebun.
“Harapannya adalah kita dalam mengelola sawit itu sendiri, apa yang kita kerjakan itu benar,” katanya.
Penguatan kompetensi semakin diperlukan karena pekebun menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketersediaan pupuk, perubahan iklim, El Niño dan kebakaran, hingga persaingan dengan minyak nabati lainnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: dinas tphp provinsi bengkulu