Keistimewaan Orang Berpuasa yang Terhindar dari Asam Lambung
Keistimewaan Orang Berpuasa yang Terhindar dari Asam Lambung--
RADARMUKOMUKO.COM - Di tengah rutinitas puasa yang dijalani jutaan umat Muslim setiap tahun, ada satu pengalaman menarik yang kerap dirasakan sebagian orang.
Ketika pola makan berubah dan tubuh beradaptasi dengan jadwal sahur serta berbuka, sejumlah individu justru merasakan tubuh lebih ringan dan keluhan lambung berkurang. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku jarang mengalami gangguan asam lambung selama menjalani ibadah puasa.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa puasa, jika dijalani dengan pola makan yang tepat, dapat membantu menyeimbangkan sistem pencernaan.
Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan selama beberapa jam, organ lambung memiliki kesempatan untuk beristirahat dari proses pencernaan yang biasanya berlangsung hampir sepanjang hari.
Di berbagai pusat layanan kesehatan, pengalaman tersebut sering disampaikan oleh pasien yang sebelumnya memiliki riwayat gangguan lambung ringan. Mereka merasakan perubahan kondisi tubuh ketika menjalani puasa secara teratur.
Sebagian mengaku rasa perih atau sensasi panas di dada yang biasa muncul di hari-hari biasa justru berkurang selama bulan Ramadan.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Fajar Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat terjadi karena perubahan pola makan yang lebih teratur selama puasa. Ia menyampaikan bahwa lambung sebenarnya memiliki ritme kerja yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan seseorang.
“Ketika seseorang makan secara teratur saat sahur dan berbuka, produksi asam lambung juga mengikuti ritme tersebut. Tubuh menjadi lebih terlatih untuk memproduksi asam pada waktu yang sama setiap hari,” ujar dr. Fajar dalam sebuah seminar kesehatan yang membahas manfaat puasa bagi sistem pencernaan.
Dalam kondisi normal, lambung memproduksi asam untuk membantu mencerna makanan. Namun produksi asam ini bisa meningkat ketika seseorang makan secara tidak teratur, terlalu sering mengonsumsi makanan pedas, atau memiliki kebiasaan ngemil sepanjang hari.
Situasi tersebut dapat memicu naiknya asam lambung yang menyebabkan sensasi panas di dada, mual, hingga nyeri di perut bagian atas.
Puasa secara tidak langsung membantu memutus kebiasaan makan yang tidak terkontrol. Selama kurang lebih 13 hingga 14 jam, tubuh tidak menerima makanan sehingga sistem pencernaan berada dalam kondisi relatif tenang. Masa istirahat ini memungkinkan lambung melakukan proses pemulihan pada lapisan dindingnya.
Ahli gizi klinis dari Universitas Indonesia, dr. Rina Kusuma, menyebut bahwa puasa juga mendorong seseorang untuk lebih sadar terhadap jenis makanan yang dikonsumsi.
“Saat berbuka, banyak orang mulai memilih makanan yang lebih ringan terlebih dahulu, seperti kurma dan air putih. Pola ini sebenarnya baik untuk lambung karena tidak langsung memberikan beban pencernaan yang berat,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
