Tiga Jenis Jamur Hutan yang Aman Dikonsumsi dan Tidak Menimbulkan Efek Mabuk
Tiga Jenis Jamur Hutan yang Aman Dikonsumsi dan Tidak Menimbulkan Efek Mabuk--
RADARMUKOMUKO.COM - Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap jamur yang bisa menimbulkan keracunan atau efek halusinogen, pengetahuan tentang jenis yang aman dikonsumsi menjadi bekal penting, terutama bagi warga desa dusun yang menggantungkan sebagian kebutuhan pangan dari hutan sekitar atau alam liar.
Di beberapa wilayah hutan tropis Indonesia, terdapat setidaknya tiga jenis jamur liar yang dikenal aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek mabuk apabila diolah dengan benar.
Ketiganya adalah jamur tiram liar, jamur kuping, dan jamur merang hutan. Ketiga jenis ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, baik sebagai lauk harian maupun sebagai tambahan gizi saat musim panen tiba.
Jamur tiram liar, yang memiliki tudung putih hingga krem dengan bentuk menyerupai cangkang tiram, kerap ditemukan tumbuh menempel pada batang kayu lapuk.
Di Desa Air Dikit, Mukomuko, Bengkulu, jamur ini mulai bermunculan pada awal musim hujan, biasanya antara Oktober hingga Desember. Warga setempat memetiknya pada pagi hari ketika teksturnya masih segar dan belum terlalu keras.
“Jamur tiram hutan ini rasanya gurih alami. Kalau masih muda, dagingnya lembut dan tidak pahit,” ujar Rahmad, seorang warga yang sejak kecil terbiasa mencari jamur bersama ayahnya.
Ia menuturkan bahwa selama puluhan tahun, tidak pernah ada kasus mabuk akibat mengonsumsi jamur tiram liar yang tumbuh di kayu lapuk tersebut. Kuncinya, kata dia, adalah memastikan jamur tidak berwarna mencolok dan tidak berbau menyengat.
Selain cita rasanya yang lezat, jamur tiram juga dikenal memiliki kandungan protein nabati, serat, dan antioksidan yang cukup tinggi. Penelitian dalam Journal of Food Science and Technology menyebutkan bahwa jamur tiram mengandung beta-glukan yang berperan dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta membantu menurunkan kadar kolesterol.
Jenis kedua adalah jamur kuping, yang mudah dikenali dari bentuknya yang menyerupai telinga manusia dengan tekstur kenyal dan warna cokelat gelap hingga hitam. Jamur ini tumbuh pada batang kayu mati yang lembap, terutama di hutan dengan curah hujan tinggi.
Di wilayah Sumatera bagian selatan, jamur kuping sering dijumpai sepanjang musim penghujan dan menjadi bahan pelengkap berbagai hidangan tradisional.
Siti Aminah, pedagang sayur di pasar tradisional, mengatakan jamur kuping hasil hutan selalu diminati pembeli.
“Banyak yang suka karena teksturnya unik dan tidak bikin pusing. Biasanya kami rendam dulu, lalu dimasak tumis atau campur sup,” katanya. Ia menambahkan bahwa masyarakat sudah memiliki pengetahuan turun-temurun tentang cara membedakan jamur kuping asli dengan jenis liar lain yang berpotensi berbahaya.
Secara ilmiah, jamur kuping termasuk dalam genus Auricularia yang telah lama dikonsumsi di berbagai negara Asia.
Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Medicinal Mushrooms menunjukkan bahwa jamur kuping mengandung polisakarida yang berpotensi mendukung kesehatan jantung dan sistem imun. Tidak ada kandungan zat psikoaktif pada jenis ini, sehingga tidak menimbulkan efek halusinogen atau mabuk.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: