Merek Sarung yang Banyak Dicari di Bulan Ramadan
Merek Sarung yang Banyak Dicari di Bulan Ramadan--
RADARMUKOMUKO.COM - Ramadan baru memasuki pekan pertama, tetapi denyut belanja perlengkapan ibadah telah terasa kuat, dan sarung menjadi salah satu barang yang paling banyak dicari.
Di antara berbagai pilihan, beberapa merek konsisten mendominasi penjualan setiap bulan puasa. Sarung merek Wadimor, Atlas, dan BHS tercatat sebagai yang paling sering ditanyakan pembeli. Ketiganya memiliki segmen pasar yang berbeda, namun sama-sama kuat dalam citra kualitas dan kenyamanan.
“Kalau Ramadan seperti ini, tiga merek itu paling cepat habis. Pembeli sudah tahu kualitasnya,” ujar Hendra (45), pemilik Toko Sumber Rezeki yang telah berjualan lebih dari satu dekade.
Hendra menjelaskan bahwa Wadimor dan Atlas banyak diminati karena harganya relatif terjangkau dengan pilihan motif beragam. Sementara BHS cenderung dicari oleh pembeli yang mengutamakan bahan premium dan detail tenun yang lebih halus. “Untuk tarawih dan Lebaran, orang ingin yang nyaman dan terlihat rapi. Sarung bukan sekadar kain, tapi bagian dari penampilan,” katanya.
Ramadan menjadi momentum penting bagi pedagang sarung karena tradisi mengenakan busana Muslim yang lebih formal meningkat signifikan. Salat tarawih berjemaah, tadarus di masjid, hingga persiapan Idulfitri membuat kebutuhan sarung bertambah.
Tidak sedikit pula yang membeli sebagai hadiah untuk orang tua atau kerabat. Di toko Hendra, pembelian mulai ramai sejak tiga hari sebelum puasa dan terus meningkat memasuki akhir pekan pertama Ramadan.
Fenomena ini juga terlihat di pasar tradisional. Aminah (39), pedagang pakaian di Pasar Koto Jaya, mengaku stok sarungnya berkurang hampir separuh dalam waktu kurang dari dua minggu.
“Banyak ibu-ibu beli untuk suami dan anak laki-lakinya. Ada juga yang kirim ke kampung sebagai parcel,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembeli cenderung memilih warna-warna netral seperti biru tua, cokelat, dan hitam karena mudah dipadukan dengan baju koko.
Dari sisi konsumen, pertimbangan kenyamanan menjadi alasan utama. Rafi (28), seorang pegawai swasta yang ditemui usai memilih sarung di salah satu pusat perbelanjaan, mengatakan ia sengaja membeli merek yang sudah dikenal.
“Saya pilih yang bahannya adem dan tidak mudah kusut. Dipakai tarawih lama tetap nyaman,” tuturnya. Baginya, Ramadan adalah momen untuk tampil lebih rapi tanpa meninggalkan kesederhanaan.
Menurut Dosen Ekonomi Syariah Universitas Bengkulu, Dr. Rahmat Hidayat, peningkatan penjualan sarung setiap Ramadan merupakan bagian dari pola konsumsi musiman masyarakat Muslim Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa produk-produk yang terkait langsung dengan aktivitas ibadah cenderung mengalami lonjakan permintaan. “Sarung memiliki nilai fungsional sekaligus simbolik. Ia merepresentasikan identitas religius dan budaya,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Rahmat menambahkan bahwa merek-merek besar mampu mempertahankan posisinya karena konsistensi kualitas dan distribusi yang luas. Kepercayaan konsumen terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun, sehingga ketika Ramadan tiba, pilihan mereka cenderung kembali pada merek yang sama.
“Brand equity sangat berperan. Di momen emosional seperti Ramadan, orang tidak ingin mengambil risiko dengan produk yang belum teruji,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: