Ini Manfaat Secara Psikologi bagi yang Sering Pergi Wisata

Ini Manfaat Secara Psikologi bagi yang Sering Pergi Wisata

Ini Manfaat Secara Psikologi bagi yang Sering Pergi Wisata--

RADARMUKOMUKO.COM - Di antara mereka, ada keluarga muda, pekerja kantoran yang mengambil cuti, hingga seorang perempuan paruh baya yang bepergian sendiri dengan ransel kecil di pundaknya. 

Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi memiliki tujuan serupa: menjauh sejenak dari rutinitas dan menemukan ruang bernapas yang lebih lapang. 

Di balik perjalanan itu, tersimpan manfaat psikologis yang kerap tidak disadari, namun terasa nyata ketika tubuh dan pikiran kembali pulang dalam keadaan lebih ringan.

Fenomena meningkatnya minat berwisata dalam beberapa tahun terakhir bukan sekadar tren gaya hidup. Setelah masa pandemi yang membatasi mobilitas, banyak orang menyadari pentingnya jeda dari tekanan pekerjaan dan tuntutan sosial. 

Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan lonjakan perjalanan domestik sejak 2023, terutama ke destinasi alam seperti pantai, pegunungan, dan desa wisata. Di balik angka-angka tersebut, terdapat kebutuhan mendasar manusia untuk memulihkan kondisi mental.

Psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Lintang Permata, menjelaskan bahwa perjalanan wisata memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan psikologis. “Ketika seseorang berpindah dari lingkungan rutinnya, otak menerima rangsangan baru. 

Hal ini membantu memutus pola stres yang berulang dan memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat,” ujarnya saat ditemui di Yogyakarta pekan lalu. Ia menambahkan bahwa perubahan suasana, aroma, suara, dan interaksi sosial baru dapat merangsang produksi hormon dopamin dan serotonin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati.

Manfaat pertama yang paling terasa adalah penurunan tingkat stres. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, tekanan pekerjaan sering kali membuat individu sulit benar-benar rileks. 

Rini, seorang manajer pemasaran berusia 35 tahun, mengaku rutin mengambil cuti pendek setiap tiga bulan untuk bepergian ke luar kota. “Begitu melihat laut atau pegunungan, rasanya pikiran langsung lebih tenang. Saya merasa lebih sabar dan fokus ketika kembali bekerja,” tuturnya. Ia menyadari bahwa perjalanan singkat tersebut bukan pemborosan, melainkan investasi bagi kesehatan mentalnya.

Selain meredakan stres, wisata juga membantu memperkuat hubungan sosial. Ketika keluarga menghabiskan waktu bersama di luar rutinitas harian, kualitas interaksi cenderung meningkat. Tanpa gangguan pekerjaan atau tugas sekolah, percakapan menjadi lebih hangat dan bermakna. 

Dr. Lintang menilai pengalaman bersama di tempat baru menciptakan memori kolektif yang mempererat ikatan emosional. “Kenangan positif yang dibangun saat perjalanan dapat menjadi sumber kekuatan psikologis di kemudian hari,” katanya.

Bagi mereka yang bepergian sendiri, manfaatnya tak kalah besar. Solo traveling sering menjadi ruang refleksi diri. Dalam perjalanan, seseorang dihadapkan pada situasi baru yang menuntut adaptasi, mulai dari mencari penginapan hingga berinteraksi dengan penduduk lokal. 

Proses ini secara tidak langsung melatih kepercayaan diri dan kemandirian. “Menghadapi tantangan kecil selama perjalanan membuat individu merasa mampu mengatasi masalah. Rasa kompeten itu penting untuk kesehatan mental,” jelas Dr. Lintang.

Wisata alam memiliki efek yang lebih spesifik. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa paparan lingkungan alami dapat meningkatkan konsentrasi dan memulihkan kelelahan mental. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: