Tujuan Doa Masuk Puasa Menurut Para Ulama

Tujuan Doa Masuk Puasa Menurut Para Ulama

--

RADARMUKOMUKO.COM Menjelang datangnya bulan Ramadan, suasana batin umat Islam perlahan berubah. Ada harap, ada kesiapan, dan ada kesadaran bahwa waktu yang istimewa akan segera hadir. 

Di tengah persiapan lahir dan batin itu, doa masuk puasa menjadi salah satu amalan yang kerap dibaca, dihafal sejak kecil, dan diwariskan lintas generasi. 

Doa ini tidak sekadar rangkaian lafaz, melainkan penanda kesadaran spiritual bahwa puasa adalah ibadah besar yang memerlukan niat, pertolongan, dan keikhlasan sejak awal.

Para ulama menempatkan doa masuk puasa sebagai bentuk pengakuan manusia atas keterbatasannya. Dalam pandangan mereka, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan ruhani yang menuntut kesiapan mental dan kesungguhan hati. 

Oleh karena itu, doa menjadi pintu masuk agar ibadah yang akan dijalani tidak berhenti pada rutinitas, melainkan bermakna dan berbuah takwa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa niat dan doa di awal ibadah berfungsi meluruskan orientasi hati. Puasa, menurutnya, memiliki dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir tampak pada aktivitas menahan diri, sementara dimensi batin terletak pada kesadaran kepada Allah dan pengendalian hawa nafsu.

 “Amal tanpa kehadiran hati hanya menjadi gerak tubuh yang kosong makna,” tulis Al-Ghazali, menegaskan bahwa doa di awal puasa adalah upaya menghadirkan hati sebelum tubuh mulai menahan diri.

Pandangan serupa disampaikan oleh Syekh Yusuf Al-Qaradawi yang melihat doa masuk puasa sebagai sarana membangun kesadaran kolektif umat. Dalam salah satu kajiannya, ia menyebut bahwa doa tersebut mengandung pengakuan atas nikmat umur dan kesempatan. 

“Tidak semua orang diberi peluang berjumpa dengan Ramadan. Doa di awal puasa adalah bentuk syukur sekaligus permohonan agar ibadah diterima,” ungkapnya. Bagi Al-Qaradawi, doa itu menanamkan kesadaran bahwa puasa adalah karunia, bukan beban.

Di Indonesia, ulama-ulama Nusantara juga memberi perhatian besar pada makna doa masuk puasa. KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus kerap menekankan sisi humanis dari doa. Menurutnya, doa bukan sekadar bacaan seremonial yang diulang setiap tahun, melainkan dialog batin yang jujur antara hamba dan Tuhannya.

 “Puasa akan terasa ringan jika diawali dengan kesadaran bahwa kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih manusiawi,” tutur Gus Mus dalam salah satu pengajiannya. Doa, dalam konteks ini, menjadi jembatan antara nilai ilahiah dan realitas kemanusiaan.

Waktu pembacaan doa masuk puasa, yang lazim dilakukan pada malam pertama Ramadan atau saat penetapan awal bulan, juga memiliki makna simbolik. Para ulama menilai momen ini sebagai titik transisi dari kehidupan biasa menuju fase pengendalian diri yang lebih ketat. 

Di sinilah doa berfungsi sebagai penanda kesiapan batin. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu menyebut bahwa niat dan doa di awal puasa membantu seseorang memasuki suasana ibadah secara sadar, bukan sekadar ikut arus tradisi.

Tempat dan situasi pembacaan doa pun beragam, mulai dari masjid, rumah, hingga ruang-ruang pribadi. Namun, para ulama sepakat bahwa esensi doa tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh kehadiran hati. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: