Pangeran Wayang Kulit Meriahkan Perpisahan SDIT Al Kautsar

Senin 25-05-2026,17:01 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM - Suasana haru dan bahagia menyelimuti acara perpisahan murid Kelas VI Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Kautsar Mukomuko yang berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026. 

Acara yang digelar di aula salah satu hotel ternama di Kecamatan Kota Mukomuko tersebut menjadi momen spesial bagi 96 murid yang resmi dikembalikan kepada orang tua setelah menyelesaikan pendidikan di SDIT Al Kautsar.

Namun, perpisahan tahun ini terasa berbeda dan lebih meriah. Para hadirin dibuat terpukau dengan penampilan pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang cilik berbakat, Ammar El Tsagif. 

Menariknya, Ammar juga merupakan salah satu murid kelas VI yang mengikuti acara perpisahan tersebut.

Dalam pagelaran berdurasi sekitar 11 menit itu, Ammar tampil percaya diri memainkan wayang kulit layaknya seorang dalang profesional. Penampilannya berhasil mencuri perhatian para tamu undangan, guru, wali murid, hingga rekan-rekannya sendiri. Tepuk tangan meriah pun berkali-kali terdengar sepanjang pertunjukan berlangsung.

Kemunculan Ammar sebagai dalang cilik dinilai menjadi hal yang luar biasa, terutama karena kesenian wayang kulit sangat jarang ditemukan di Kabupaten Mukomuko. Bahkan, untuk menghadirkan pertunjukan wayang kulit di daerah tersebut biasanya harus mendatangkan dalang dari luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa.

Di tengah minimnya pelaku seni wayang kulit di Mukomuko, Ammar justru menunjukkan ketertarikan besar terhadap budaya tradisional tersebut sejak usia dini. 

Berbeda dengan anak seusianya yang umumnya gemar bermain mobil-mobilan atau permainan modern lainnya, Ammar lebih suka menonton pertunjukan wayang kulit melalui media sosial dan Youtube.

Ammar merupakan anak kedua dari pasangan Anton Budiono, M.Pd dan Astriolani, warga Desa Tirta Mulya, Kecamatan Air Manjuto. Menurut sang ayah, ketertarikan Ammar terhadap wayang kulit sudah terlihat sejak kecil.

"Awalnya Ammar bermain gambar wayang yang diprint di kertas, kemudian meningkat sedikit demi sedikit hingga membeli wayang yang terbuat dari kertas," ujar Anton.

Anton menjelaskan, bakat dan kecintaan Ammar terhadap wayang kulit juga mendapat dukungan penuh dari sang kakek dari pihak ibu yang memang memiliki hobi serupa. Bahkan, kakeknya aktif mengenalkan berbagai tokoh pewayangan sekaligus membelikan perlengkapan wayang kulit untuk Ammar.

"Kakek dari ibunya juga hobi wayang kulit. Bahkan bapak saya seorang dalang wayang kulit. Mungkin darah seni itu mengalir dari kakeknya, karena saya sendiri tidak bisa menjadi dalang wayang kulit," ungkap Anton sambil tersenyum.

Meski memiliki minat besar terhadap seni pewayangan, Ammar harus belajar secara mandiri karena di Mukomuko hampir tidak ada sosok dalang yang bisa membimbingnya secara langsung. Untuk mengasah kemampuannya, Ammar lebih banyak belajar melalui tayangan wayang kulit di Youtube.

"Di dalam kamar sudah disiapkan kelir dan perlengkapan bermain wayang. Di situlah Ammar belajar sendiri. Kalau kamar anak seusianya penuh mainan, kamar Ammar justru penuh wayang kulit. Sebagai bentuk dukungan, saya juga membelikan wayang kulit asli," jelas Anton.

Saat ditanya mengenai cita-citanya menjadi dalang profesional, Ammar mengaku belum bisa memastikan. Namun yang jelas, bermain wayang kulit telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-harinya. Ia juga mengaku sangat mengidolakan dalang muda asal Solo, Ki Bayu Aji Pamungkas, yang dikenal mahir memainkan wayang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tags :
Kategori :

Terkait