Gula yang Paling Baik Dikonsumsi untuk Penderita Diabetes

Selasa 19-05-2026,15:23 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

 

RADARMUKOMUKO.COM - Secangkir teh hangat di pagi hari sering menjadi pelengkap sederhana yang memberi rasa nyaman. Namun bagi penderita diabetes, kebiasaan kecil seperti menambahkan gula ke dalam minuman bukan lagi perkara sepele. 

Setiap sendok pemanis yang dikonsumsi memiliki pengaruh besar terhadap kadar gula darah, sehingga memilih jenis gula yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh tetap stabil.

Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia, kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat mulai tumbuh. Banyak orang kini mencari alternatif gula yang dianggap lebih aman dibanding gula pasir biasa. Tidak sedikit pula yang beralih ke pemanis alami dengan harapan tetap bisa menikmati rasa manis tanpa meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Rina Maheswari, menjelaskan bahwa penderita diabetes sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang mengonsumsi rasa manis. Yang terpenting adalah memahami jenis gula, jumlah konsumsi, serta bagaimana tubuh merespons asupan tersebut. 

BACA JUGA:Ledakan Besar Sertai Kebakaran Rumah Di SP1 Penarik, Seluruh Barang Hingga uang Ikut Terbakar

BACA JUGA: Terik Menghadapi Ekonomi Sulit demi Kebutuhan Sehari-hari

“Bukan hanya soal manis atau tidak manis, tetapi bagaimana gula itu memengaruhi lonjakan glukosa darah. Penderita diabetes harus lebih selektif dalam memilih pemanis,” ujarnya dalam seminar kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Salah satu jenis pemanis yang kerap direkomendasikan adalah stevia. Pemanis alami yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana ini dikenal memiliki kadar kalori sangat rendah dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan. Dalam beberapa penelitian, stevia dinilai lebih aman bagi penderita diabetes karena indeks glikemiknya mendekati nol. Selain digunakan dalam minuman, stevia kini juga banyak dipakai pada produk makanan rendah gula.

Selain stevia, gula kelapa juga sering dianggap lebih baik dibanding gula putih biasa. Gula yang dibuat dari nira pohon kelapa ini memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga proses kenaikan gula darah berlangsung lebih lambat. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa gula kelapa tetap harus dikonsumsi dalam batas wajar. Kandungan sukrosa di dalamnya masih dapat memengaruhi kadar glukosa apabila dikonsumsi berlebihan.

Pilihan lain yang cukup populer adalah erythritol dan xylitol, yakni pemanis rendah kalori yang banyak digunakan dalam produk khusus diabetes. Kedua jenis pemanis ini cenderung lebih aman karena tidak cepat diubah menjadi glukosa dalam tubuh. Namun penggunaannya tetap memerlukan pengawasan, terutama bagi orang yang memiliki gangguan pencernaan tertentu.

Ahli gizi klinis dari Universitas Gadjah Mada, Nur Aisyah Putri, menyebut bahwa banyak penderita diabetes sering salah memahami konsep gula sehat. Menurutnya, tidak ada gula yang benar-benar bebas risiko apabila dikonsumsi berlebihan. “Kadang masyarakat menganggap gula aren atau madu pasti aman, padahal tetap mengandung kalori dan gula alami. Prinsip utamanya adalah pengendalian porsi dan pola makan secara keseluruhan,” katanya.

Madu sendiri masih menjadi perdebatan dalam dunia kesehatan. Sebagian penelitian menunjukkan madu memiliki antioksidan dan nutrisi yang lebih baik dibanding gula rafinasi, tetapi kandungan fruktosa dan glukosanya tetap perlu diperhatikan. Karena itu, penderita diabetes dianjurkan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjadikan madu sebagai konsumsi rutin.*

 

Kategori :