RADARMUKOMUKO.COM - Di masa ketika listrik belum menerangi malam dan layar digital belum menyita perhatian manusia berjam-jam setiap hari, orang-orang dahulu memiliki kebiasaan hidup yang tanpa disadari membantu menjaga kesehatan mata hingga usia senja.
Banyak orang tua pada zaman itu tetap mampu membaca tulisan kecil, berjalan tanpa bantuan, bahkan bekerja di ladang hingga usia lanjut tanpa keluhan penglihatan yang berarti. Di balik ketahanan itu, tersimpan pola hidup sederhana yang diwariskan turun-temurun.
Masyarakat tradisional percaya bahwa mata bukan sekadar alat melihat, melainkan jendela utama untuk menjaga hubungan manusia dengan alam dan kehidupan. Karena itu, kesehatan mata dirawat melalui kebiasaan sehari-hari yang dekat dengan lingkungan. Mereka menjaga pola makan, menghindari aktivitas berlebihan di malam hari, serta memanfaatkan tanaman herbal sebagai bagian dari perawatan tubuh.
Di berbagai daerah Nusantara, konsumsi sayuran hijau menjadi kebiasaan yang hampir tidak terpisahkan dari menu harian. Daun kelor, bayam, daun singkong, hingga wortel liar sering diolah menjadi makanan keluarga. Tanpa memahami istilah vitamin A seperti saat ini, masyarakat dahulu telah mengenal secara pengalaman bahwa makanan tertentu membantu menjaga penglihatan tetap jernih.
BACA JUGA:Ciri-Ciri Sawit Diserang Kumbang Tanduk yang Wajib Diwaspadai Petani
BACA JUGA:Penyebab Bibir Pecah-Pecah Menurut Dokter
Pakar kesehatan tradisional dari Universitas Airlangga, Dr. Rina Maheswari, mengatakan pola makan alami masyarakat lama memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mata. Menurutnya, bahan pangan segar kaya antioksidan membantu melindungi retina dan memperlambat penurunan fungsi penglihatan.
“Orang dahulu jarang mengonsumsi makanan olahan atau tinggi gula. Mereka lebih dekat dengan sayuran segar dan hasil alam yang ternyata sangat baik untuk kesehatan mata,” ujarnya dalam seminar kesehatan herbal di Surabaya.
Selain makanan, kebiasaan beristirahat juga menjadi faktor penting. Pada masa lalu, aktivitas manusia sangat bergantung pada cahaya matahari. Ketika malam tiba, sebagian besar orang memilih tidur lebih awal dibanding memaksakan mata bekerja dalam pencahayaan redup. Kebiasaan itu memberi waktu bagi mata untuk beristirahat secara alami.
Di daerah pedesaan, orang tua zaman dahulu juga terbiasa memandang hamparan hijau sawah, pepohonan, dan langit terbuka setiap hari. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membantu mata tetap rileks. Berbeda dengan kehidupan modern yang dipenuhi layar ponsel dan komputer dari jarak dekat, mata masyarakat terdahulu lebih sering fokus pada objek jauh sehingga otot mata bekerja lebih seimbang.
Tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakan bahan alami sebagai perawatan mata. Air rendaman daun sirih, misalnya, sering dipakai untuk membersihkan area mata ketika terasa gatal atau lelah. Sementara itu, mentimun dan lidah buaya dimanfaatkan untuk mengurangi panas di sekitar mata setelah bekerja seharian di bawah terik matahari.
Ahli herbal tradisional, Hendra Saputra, menjelaskan bahwa beberapa tanaman memang memiliki kandungan antiinflamasi alami yang membantu menjaga kesehatan mata. Namun ia mengingatkan bahwa penggunaannya tetap harus bersih dan tidak berlebihan.
“Tradisi lama mengajarkan keseimbangan. Mereka memanfaatkan alam secukupnya dan menjaga tubuh dengan pola hidup yang teratur,” katanya.
Hal lain yang turut memengaruhi kesehatan mata orang dahulu adalah minimnya paparan cahaya buatan dan polusi. Mata tidak dipaksa menatap cahaya terang terus-menerus seperti pada era modern saat ini. Karena itu, gangguan mata akibat kelelahan visual cenderung lebih rendah.*