RADARMUKOMUKO.COM - Di sebuah sudut kota Tokyo yang sibuk, aroma rempah yang hangat perlahan menguar dari dapur-dapur sederhana milik komunitas Muslim. Hari itu bukan sekadar akhir dari bulan Ramadan, melainkan momen yang ditunggu-tunggu Idulfitri.
Di negeri yang mayoritas penduduknya tidak merayakan Lebaran, umat Muslim di Jepang menemukan cara mereka sendiri untuk menjaga tradisi, salah satunya melalui sajian khas yang sarat makna dan rasa.
Komunitas Muslim di Jepang, yang terdiri dari warga lokal mualaf hingga pendatang dari berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, dan Turki, merayakan Idulfitri dengan kehangatan yang tidak kalah dari negara-negara mayoritas Muslim.
Meski jumlah mereka relatif kecil, semangat untuk mempertahankan budaya Lebaran tetap hidup, terutama melalui makanan yang menjadi simbol kebersamaan.
Berbeda dengan Indonesia yang identik dengan ketupat, opor ayam, atau rendang, di Jepang tidak ada satu hidangan tunggal yang bisa disebut sebagai makanan khas Lebaran.
Namun, dari perpaduan budaya dan ketersediaan bahan lokal, lahirlah ragam sajian yang mencerminkan identitas unik Muslim Jepang. Salah satu yang cukup populer adalah nasi kebuli versi Jepang, yang diadaptasi dengan bahan yang lebih mudah ditemukan di pasar lokal.
Aiko Tanaka, seorang mualaf asal Osaka yang telah memeluk Islam selama tujuh tahun, menceritakan bagaimana ia pertama kali merayakan Lebaran dengan memasak hidangan khas Asia Selatan.
“Awalnya saya mengikuti resep dari teman Pakistan. Tapi lama-lama saya sesuaikan dengan bahan di Jepang, seperti menggunakan beras Jepang yang lebih pulen,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa proses memasak menjadi cara untuk memahami budaya Islam lebih dalam.
Selain nasi kebuli, hidangan seperti kari halal juga menjadi pilihan utama. Kari, yang sebenarnya sudah akrab dalam budaya Jepang, diolah dengan bahan halal dan rempah khas Timur Tengah atau Asia Selatan.
Perpaduan ini menciptakan rasa yang uniktidak sepenuhnya Jepang, tetapi juga tidak asing bagi lidah Muslim dari berbagai latar belakang.
Di kota Kobe, yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Muslim di Jepang, masjid menjadi pusat perayaan Idulfitri. Setelah salat Id, jamaah biasanya berkumpul dan saling berbagi makanan.
Di sinilah berbagai hidangan dari beragam negara tersaji dalam satu meja panjang. Dari biryani, kebab, hingga kue-kue manis seperti baklava dan nastar, semuanya hadir sebagai simbol keberagaman yang menyatu dalam satu perayaan.
Menurut Hiroshi Nakamura, pengurus salah satu masjid di Kobe, tradisi berbagi makanan ini memiliki makna yang mendalam. “Lebaran di Jepang bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang membangun rasa kebersamaan di tengah perbedaan. Kami saling mengenal budaya satu sama lain melalui apa yang kami masak dan bagikan,” katanya.