RADARMUKOMUKO.COM - Di antara rasa manis yang khas, tiba-tiba muncul butiran kecil yang terasa seperti pasir di lidah. Pengalaman sederhana itu sering memunculkan rasa heran sekaligus penasaran tentang apa sebenarnya yang menyebabkan kurma terasa berpasir saat dimakan.
Fenomena tersebut sebenarnya cukup umum ditemui, terutama pada kurma yang dijual dalam kondisi kering atau setengah kering. Di berbagai pasar tradisional hingga toko modern di Indonesia, kurma biasanya diimpor dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Tunisia, Iran, atau Mesir.
Proses perjalanan yang panjang, mulai dari panen hingga sampai ke tangan konsumen, membuat kurma melewati banyak tahap penanganan yang berpotensi memengaruhi teksturnya.
Menurut ahli pangan dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Rini Setyawati, sensasi berpasir pada kurma umumnya bukan berasal dari pasir sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa butiran kecil yang terasa di lidah biasanya merupakan kristal gula alami yang terbentuk selama proses penyimpanan.
“Kurma memiliki kandungan gula yang sangat tinggi, terutama glukosa dan fruktosa. Dalam kondisi tertentu, gula tersebut dapat mengkristal sehingga terasa seperti butiran halus ketika dimakan,” ujar Rini saat dihubungi dalam sebuah diskusi mengenai pangan alami.
Proses kristalisasi ini biasanya terjadi ketika kurma disimpan dalam suhu yang tidak stabil atau dalam waktu yang cukup lama. Ketika kadar air di dalam buah berkurang, gula yang awalnya larut dalam daging buah mulai membentuk kristal-kristal kecil. Kristal inilah yang kemudian memberi sensasi kasar, mirip seperti pasir halus di mulut.
Selain kristalisasi gula, faktor lingkungan tempat kurma tumbuh juga bisa memengaruhi teksturnya. Tanaman kurma umumnya tumbuh di wilayah gurun yang memiliki tanah berpasir.
Saat panen dilakukan, buah yang jatuh atau dipetik dari pohon terkadang masih membawa sisa-sisa debu halus dari lingkungan sekitar. Meski sebagian besar kurma sudah melalui proses pembersihan sebelum dipasarkan, kemungkinan adanya partikel kecil dari debu gurun tetap bisa terjadi.
Peneliti pangan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Prasetyo, menjelaskan bahwa proses pencucian kurma di negara produsen biasanya dilakukan secara bertahap, tetapi tidak semua jenis kurma diproses dengan metode yang sama.
“Kurma kering seperti jenis Deglet Noor atau Zahidi sering dipasarkan dalam kondisi alami tanpa banyak proses pencucian agar teksturnya tetap terjaga. Pada jenis ini, kadang masih ada partikel kecil dari lingkungan yang ikut terbawa,” kata Agus.
Di sisi lain, jenis kurma juga menentukan kemungkinan munculnya sensasi tersebut. Kurma dengan kadar gula tinggi seperti Ajwa, Sukari, atau Khalas cenderung lebih mudah mengalami kristalisasi dibandingkan jenis kurma yang lebih lembap seperti Medjool. Itulah sebabnya beberapa orang lebih sering merasakan butiran kecil pada jenis kurma tertentu.
Ahli gizi dari Universitas Indonesia, Dr. Mira Hidayati, mengatakan bahwa fenomena tersebut tidak mengurangi nilai gizi kurma. Ia menegaskan bahwa kurma tetap menjadi salah satu buah dengan kandungan nutrisi yang sangat baik bagi tubuh.
“Kurma kaya akan serat, kalium, magnesium, serta antioksidan alami yang bermanfaat untuk kesehatan. Sensasi berpasir yang berasal dari kristal gula sebenarnya adalah bagian dari proses alami dalam buah yang memiliki kadar gula tinggi,” jelas Mira.