Penjelasan Hadis dan Keterangan Ulama tentang Arti Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan

Minggu 01-03-2026,18:16 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Datangnya Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda, sebuah hadis yang sangat populer kembali mengemuka di ruang-ruang pengajian: bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kalimat ini bukan sekadar penghibur, melainkan penegas bahwa bulan suci memiliki dimensi spiritual yang istimewa.

Hadis tersebut diriwayatkan antara lain oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. 

Riwayat ini telah lama menjadi rujukan utama umat Islam dalam memahami keutamaan Ramadhan. Namun, di balik redaksinya yang singkat, tersimpan penjelasan mendalam yang dibahas para ulama dari generasi ke generasi.

Menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam  Fath al-Bari, makna “setan dibelenggu” tidak selalu dipahami secara sederhana sebagai ketiadaan mutlak godaan. Ia menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan yang paling kuat dan membangkang, sehingga daya rusaknya berkurang secara signifikan. 

Dengan kata lain, peluang manusia untuk berbuat maksiat menyempit, bukan karena hilangnya ujian, tetapi karena faktor penggoda eksternal dilemahkan.

Penjelasan senada juga disampaikan Imam al-Qurthubi. Ia menerangkan bahwa pembelengguan setan menunjukkan kemuliaan Ramadhan dan banyaknya pahala yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya. 

Ketika umat Islam berpuasa dengan benar menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu ruang gerak setan semakin terbatas. 

Puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan benteng rohani. “Setan berjalan dalam aliran darah manusia,” demikian disebutkan dalam hadis lain. Maka, dengan berpuasa, aliran itu dipersempit melalui pengendalian diri.

Fenomena ini dapat dilihat setiap tahun. Di berbagai kota dan desa, termasuk di Indonesia, jumlah jamaah salat tarawih meningkat drastis ketika Ramadhan tiba. Pengajian dan tadarus Al-Qur’an berlangsung hampir tanpa jeda. 

Orang-orang yang sebelumnya jarang ke masjid mendadak meramaikan saf. Seorang dai di Bengkulu, Ustaz Rahmat Hidayat, mengatakan bahwa Ramadhan menghadirkan atmosfer kolektif yang mendorong kebaikan. “Ketika lingkungan berubah menjadi lebih religius, hati ikut tergerak. Setan memang dibelenggu, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran kita yang bangkit,” ujarnya dalam sebuah ceramah awal Ramadhan tahun ini.

Meski demikian, sebagian orang bertanya-tanya mengapa kemaksiatan masih terjadi di bulan suci. Ulama menjelaskan bahwa pembelengguan setan bukan berarti manusia menjadi malaikat. 

Nafsu tetap ada, kebiasaan buruk tetap melekat, dan pilihan moral tetap harus diambil. Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam salah satu fatwanya menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum latihan. Jika setan yang biasanya menggoda telah dilemahkan, maka yang tersisa adalah ujian dari dalam diri sendiri. Di situlah kualitas iman diuji.

Keterangan para ulama juga menyinggung bahwa hadis ini berbicara tentang peluang, bukan jaminan otomatis. Allah membuka pintu surga seluas-luasnya, tetapi manusia tetap harus melangkah. 

Allah menutup pintu neraka, tetapi manusia tetap bisa memilih jalan yang keliru. Setan dibelenggu, namun hawa nafsu dan kebiasaan lama tidak serta-merta hilang. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi bulan pendidikan spiritual yang intensif.

Di sejumlah pesantren, penjelasan tentang hadis ini sering disampaikan pada malam pertama tarawih. Para santri diajak memahami bahwa pembelengguan setan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. 

Tags :
Kategori :

Terkait