Mukjizat Nabi Hidir yang Mesti Diketahui

Sabtu 28-02-2026,15:27 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Di antara kisah-kisah agung yang terhampar dalam lembaran sejarah kenabian, sosok Nabi Hidir hadir dengan aura sunyi namun penuh makna. Namanya tidak sering disebut, tetapi jejaknya begitu kuat dalam tradisi Islam.

Ia bukan nabi yang tampil dengan mukjizat spektakuler di hadapan umat besar, melainkan figur misterius yang menyampaikan pelajaran tentang kesabaran, ilmu, dan rahasia takdir Tuhan.

Kisah Nabi Hidir paling dikenal melalui pertemuannya dengan Nabi Musa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Musa, salah satu rasul ulul azmi, bertekad mencari seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa perjalanan Musa menuju pertemuan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual untuk memahami keluasan hikmah Ilahi.

Di sebuah tempat pertemuan dua lautan, Nabi Musa akhirnya bertemu dengan Hidir. Dalam Al-Qur’an, Hidir digambarkan sebagai “seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami.”

Kalimat itu menjadi penegasan bahwa mukjizat terbesar Hidir adalah ilmu laduni, yakni pengetahuan yang dianugerahkan langsung oleh Allah tanpa perantaraan proses belajar sebagaimana lazimnya manusia.

Dalam riwayat yang dikutip Imam Al-Qurthubi, Nabi Hidir memiliki kemampuan melihat sisi terdalam dari sebuah peristiwa. Ia mampu memahami takdir sebelum manusia lain menyadarinya.

Ketika Musa memohon izin untuk mengikutinya, Hidir telah mengingatkan bahwa Musa tidak akan mampu bersabar. Pernyataan itu bukan bentuk kesombongan, melainkan penegasan bahwa ada rahasia Tuhan yang tidak selalu dapat dijangkau oleh logika manusia.

Perjalanan mereka kemudian menghadirkan tiga peristiwa yang mengguncang akal. Hidir melubangi perahu milik nelayan miskin, membunuh seorang anak kecil, dan memperbaiki dinding rumah di sebuah kampung yang enggan memberi jamuan.

Di mata Musa, tindakan itu tampak keliru bahkan tidak adil. Namun setiap kali Musa memprotes, Hidir mengingatkan tentang janji kesabaran yang telah disepakati.

Barulah di akhir perjalanan, Hidir mengungkapkan rahasia di balik perbuatannya. Perahu itu dilubangi agar terhindar dari perampasan oleh raja zalim. Anak kecil itu kelak akan menjadi penyebab kesengsaraan bagi orang tuanya yang saleh.

Dinding rumah diperbaiki untuk menjaga harta anak yatim hingga mereka dewasa. Di sinilah mukjizat Hidir menemukan maknanya: kemampuan memahami hikmah di balik peristiwa yang tampak pahit.

Profesor M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa kisah ini menegaskan keterbatasan ilmu manusia, bahkan bagi seorang nabi sekaliber Musa. “Ada wilayah pengetahuan yang berada di luar jangkauan nalar biasa.

Hidir menjadi simbol bahwa Allah menganugerahkan ilmu sesuai kehendak-Nya,” tulisnya. Penjelasan tersebut menempatkan mukjizat Hidir sebagai pengingat tentang kerendahan hati dalam mencari ilmu.

Selain kisah bersama Musa, tradisi Islam juga mengenal riwayat tentang umur panjang Hidir dan perannya sebagai pembimbing spiritual bagi orang-orang tertentu.

Tags :
Kategori :

Terkait