Mukjizat Nabi Idris yang Mesti Diketahui

Sabtu 28-02-2026,15:25 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM -  Dalam rentang panjang sejarah kenabian, nama Nabi Idris sering disebut dengan nada tenang namun penuh penghormatan. Ia bukan nabi yang kisahnya dipenuhi gelombang besar seperti Nabi Nuh, atau pergulatan dahsyat seperti Nabi Musa.

Namun di balik kesunyian itu, tersimpan jejak peradaban yang kuat. Nabi Idris diyakini sebagai salah satu pelopor ilmu pengetahuan dan keterampilan manusia, sosok yang mengajarkan bahwa wahyu tidak hanya membimbing ibadah, tetapi juga membentuk peradaban.

Nabi Idris disebut dalam Al-Qur’an sebagai pribadi yang “sangat membenarkan dan seorang nabi,” serta diangkat ke tempat yang tinggi derajatnya. Penyebutan singkat dalam Surah Maryam ayat 56–57 dan Surah Al-Anbiya ayat 85 justru memperkuat kesan mendalam tentang kemuliaannya.

Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Idris hidup setelah Nabi Adam dan Syits, pada masa ketika manusia mulai berkembang dalam komunitas yang lebih teratur. Ia diutus untuk meluruskan akidah sekaligus membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih beradab.

Dalam sejumlah riwayat klasik disebutkan bahwa mukjizat Nabi Idris terletak pada keluasan ilmu dan keterampilan yang dianugerahkan kepadanya. Ia diyakini sebagai orang pertama yang menulis dengan pena, menguasai ilmu hisab, serta menjahit pakaian.

Sebelum masanya, manusia disebut-sebut hanya mengenakan kulit binatang sebagai pelindung tubuh. Kehadirannya menandai perubahan cara hidup yang lebih terstruktur dan bermartabat.

Sejarawan Muslim Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab mencatat bahwa Idris dikenal sebagai sosok yang tekun mengamati peredaran bintang dan memahami perhitungan waktu.

Kemampuan itu bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan bagian dari wahyu yang membimbing manusia memahami keteraturan ciptaan Tuhan. Dalam perspektif ini, mukjizatnya bukan berupa tongkat yang membelah lautan, tetapi akal yang diterangi petunjuk Ilahi.

Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah kajian tafsir menyebut bahwa keistimewaan Nabi Idris terletak pada keseimbangan antara spiritualitas dan produktivitas. “Idris mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah harus melahirkan karya nyata. Ia bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pembangun peradaban,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana mukjizat Nabi Idris membumi dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan Nabi Idris berlangsung di wilayah yang diyakini berada di kawasan Babilonia atau Mesir kuno, menurut sebagian riwayat. Di sana, ia menghadapi masyarakat yang mulai mengenal struktur sosial, tetapi belum sepenuhnya memahami nilai tauhid.

Tantangan dakwahnya terletak pada membimbing manusia agar tidak terjebak dalam penyembahan selain Allah. Ia menyampaikan ajaran dengan hikmah dan keteladanan, memperlihatkan bahwa ilmu harus menguatkan iman, bukan menjauhkannya.

Salah satu peristiwa penting yang kerap dikaitkan dengannya adalah pengangkatannya ke tempat yang tinggi. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ayat tersebut.

Sebagian menafsirkan sebagai pengangkatan derajat spiritual, sementara yang lain meyakini sebagai pengangkatan fisik ke langit, sebagaimana disebut dalam beberapa riwayat Israiliyat yang dikaji secara kritis oleh para mufasir. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim menegaskan bahwa apa pun bentuknya, ayat itu menunjukkan kemuliaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepadanya.

Dalam tradisi Islam, Nabi Idris juga sering diidentifikasi dengan tokoh Henokh dalam tradisi Yahudi-Kristen. Sejumlah studi perbandingan agama, seperti yang ditulis dalam Encyclopaedia of Islam, mencatat adanya kemiripan narasi mengenai figur yang diangkat ke langit karena kesalehannya. Meskipun demikian, Islam memberikan penekanan tersendiri pada perannya sebagai nabi dan pembimbing umat.

Mukjizat Nabi Idris pada akhirnya tidak hanya dipahami sebagai kemampuan intelektual, tetapi sebagai transformasi cara hidup manusia. Ia memperkenalkan pentingnya pencatatan, perhitungan, dan keterampilan sebagai bagian dari amanah kekhalifahan di bumi. Di tangannya, ilmu menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memakmurkan kehidupan.

Tags :
Kategori :

Terkait