RADARMUKOMUKO.COM - Fenomena ini bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan peringatan serius tentang makna ibadah yang bisa saja kehilangan ruhnya.
Di Masjid Raya Al-Ikhlas, Jumat malam awal Ramadan, suasana tarawih dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk bersila mendengarkan tausiah singkat sebelum witir.
Ustaz Rahmat Hidayat, yang malam itu mengisi ceramah, menyampaikan pesan yang menggugah. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah tentang orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. “Ini peringatan agar kita tidak hanya menahan perut, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perbuatan,” ujarnya dengan nada tenang.
Menurutnya, faktor utama yang membuat puasa kehilangan nilainya adalah kelalaian dalam menjaga akhlak. Masih ada yang mudah marah, gemar bergosip, atau tetap melakukan kecurangan dalam pekerjaan meski sedang berpuasa.
Di kantor-kantor dan pasar tradisional, suasana Ramadan kadang tidak sepenuhnya mencerminkan pengendalian diri. Seorang pegawai swasta di Kota Bengkulu, Andi Pratama, mengaku pernah merasakan puasanya terasa hampa. “Saya tetap berpuasa, tapi emosi tidak terkontrol dan pekerjaan sering saya tunda. Rasanya hanya capek saja,” katanya.
Puasa sejatinya diwajibkan untuk membentuk ketakwaan. Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 menegaskan tujuan tersebut secara eksplisit. Ketakwaan tidak berhenti pada ritual, melainkan tercermin dalam integritas dan kepedulian sosial. Ketika seseorang tetap memelihara kebiasaan buruk, nilai puasa tergerus.
Ustaz Rahmat menambahkan, menahan diri dari makan dan minum hanyalah dimensi lahiriah. “Yang lebih berat adalah menahan diri dari dusta, dari iri hati, dan dari menyakiti orang lain. Jika itu gagal, maka puasa hanya menjadi rutinitas fisik,” tuturnya.
Faktor lain yang kerap luput adalah niat yang tidak tulus. Di era media sosial, sebagian orang lebih sibuk memamerkan aktivitas ibadah daripada memperdalam maknanya. Foto berbuka puasa, unggahan tarawih, hingga dokumentasi sedekah kerap memenuhi lini masa.
Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Maya Lestari, menjelaskan bahwa dorongan untuk mendapatkan pengakuan sosial bisa memengaruhi kualitas ibadah. “Ketika orientasinya bergeser pada validasi eksternal, maka esensi spiritualnya berkurang.
Ibadah membutuhkan ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya,” katanya dalam sebuah diskusi daring tentang kesehatan mental selama Ramadan.
Selain persoalan niat dan akhlak, kurangnya pemahaman juga menjadi penyebab. Banyak orang menjalankan puasa sebatas tradisi turun-temurun tanpa memperdalam ilmu. Padahal, pengetahuan tentang adab puasa, keutamaan menjaga lisan, serta pentingnya memperbanyak amal saleh sangat menentukan kualitasnya.
Di beberapa daerah, pengajian Ramadan digelar rutin selepas subuh atau menjelang berbuka. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya memperkaya pemahaman agar puasa tidak berhenti pada aspek formalitas.
Bagaimana agar puasa tidak berakhir sia-sia? Para ulama menyarankan evaluasi diri sejak awal Ramadan. Mengendalikan emosi, mengurangi percakapan yang tidak bermanfaat, serta memperbanyak membaca Al-Qur’an menjadi langkah konkret. Sedekah dan kepedulian sosial juga memperkuat dimensi empati yang menjadi inti puasa. Andi mengaku tahun ini mencoba mengubah pola kebiasaannya. Ia membatasi penggunaan media sosial dan memperbanyak waktu untuk tadarus. “Saya ingin puasa ini benar-benar mengubah saya, bukan sekadar menahan lapar,” ucapnya.
Ramadan sejatinya adalah madrasah pembentukan karakter. Ia melatih kesabaran saat tubuh sumber berita:
1. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa untuk mencapai ketakwaan.