RADARMUKOMUKO.COM - Kilau emas dan perak kembali memantulkan cahaya yang berbeda pada awal tahun ini. Di tengah gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya reda, dua logam mulia itu perlahan namun pasti merangkak naik, menembus level harga yang sebelumnya dianggap sulit dicapai.
Kenaikan tersebut bukan sekadar angka di papan perdagangan, melainkan cerminan dari keresahan, harapan, dan strategi para pelaku pasar yang membaca arah zaman.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dunia bergerak menguat di pasar internasional, diikuti oleh perak yang tak kalah agresif. Di Jakarta, pedagang emas di kawasan Cikini mengaku transaksi meningkat signifikan sejak akhir bulan lalu.
“Banyak yang datang bukan hanya untuk membeli perhiasan, tapi juga logam mulia batangan. Mereka bilang ini untuk jaga-jaga,” ujar Rudi Hartono, seorang pedagang emas yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung di bisnis tersebut, Senin (23/2/2026).
Kenaikan harga ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara besar serta fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Ketika mata uang utama dunia melemah dan inflasi masih menjadi ancaman laten, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Emas dan perak, sejak lama, menjadi pelabuhan yang relatif tenang saat badai menerpa pasar keuangan.
Analis pasar komoditas dari sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta, Mira Salsabila, menjelaskan bahwa faktor suku bunga bank sentral turut memainkan peran penting. “Saat bank sentral memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter, imbal hasil obligasi bisa turun.
Dalam situasi seperti itu, emas menjadi lebih menarik karena biaya peluang memegang emas ikut berkurang,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan turut mendorong aksi beli di pasar logam mulia.
Tak hanya faktor eksternal, kondisi geopolitik juga memperkuat daya tarik emas dan perak. Ketegangan di beberapa kawasan dunia memicu kekhawatiran akan stabilitas perdagangan internasional.
Di saat ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham dan beralih ke komoditas yang lebih stabil. Perak, meskipun dikenal sebagai logam industri, ikut terdorong karena permintaan ganda: sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan baku sektor manufaktur dan energi terbarukan.
Di Surabaya, seorang investor ritel bernama Andini Pratama mengaku mulai menambah porsi emas dalam portofolionya sejak akhir tahun lalu. “Saya belajar dari pengalaman pandemi. Saat pasar saham turun tajam, emas justru bertahan.
Sekarang saya tidak mau kecolongan lagi,” katanya. Keputusan Andini mencerminkan perubahan perilaku sebagian masyarakat kelas menengah yang semakin sadar akan pentingnya diversifikasi aset.
Lonjakan harga perak juga tidak lepas dari peningkatan kebutuhan industri, terutama dalam produksi panel surya dan komponen elektronik.
Data dari lembaga riset energi menunjukkan bahwa transisi menuju energi bersih meningkatkan permintaan perak secara signifikan. Kombinasi antara kebutuhan industri dan minat investasi menjadikan perak berada dalam posisi unik dibandingkan komoditas lain.
Namun, di balik optimisme itu, sejumlah analis mengingatkan agar investor tetap berhati-hati. Kenaikan harga yang terlalu cepat dapat memicu aksi ambil untung dalam jangka pendek. “Pasar selalu bergerak dalam siklus.