RADARMUKOMUKO.COM - Aktivitas makan yang dulu sarat percakapan kini perlahan berubah menjadi momen sunyi yang dipenuhi cahaya biru. Kebiasaan yang tampak sepele itu, menurut para psikolog, menyimpan dampak yang tidak sesederhana kelihatannya.
Fenomena makan sambil menatap layar Hp kian marak dalam lima tahun terakhir, seiring meningkatnya penggunaan ponsel di Indonesia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan penetrasi internet yang terus menanjak, termasuk di kalangan anak dan remaja.
Di ruang keluarga, di warung makan, bahkan di kantin sekolah, layar kecil menjadi “teman makan” yang paling setia. Kebiasaan ini berlangsung setiap hari, terutama pada jam makan siang dan malam, saat orang merasa perlu hiburan singkat di sela rutinitas.
Psikolog klinis dari Jakarta, Rina Mahardika, menjelaskan bahwa makan bukan sekadar proses biologis untuk mengisi energi. “Makan adalah aktivitas yang melibatkan kesadaran penuh terhadap rasa, tekstur, dan sinyal kenyang dari tubuh.
Ketika perhatian terpecah oleh layar, tubuh kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi dengan pikiran,” ujarnya saat dihubungi pekan ini.
Menurut Rina, salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya risiko makan berlebihan. Ketika seseorang fokus pada tayangan di ponsel, ia cenderung tidak menyadari seberapa banyak makanan yang telah dikonsumsi.
Rasa kenyang yang seharusnya menjadi penanda alami sering kali terabaikan. “Otak kita punya kapasitas atensi terbatas. Jika tersedot ke konten digital, maka sinyal lapar dan kenyang menjadi kurang diperhatikan. Akibatnya, porsi makan bisa melewati kebutuhan,” kata dia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa distraksi saat makan, termasuk menonton televisi atau menggunakan ponsel, berkorelasi dengan peningkatan asupan kalori.
Studi tersebut juga menemukan bahwa orang yang makan sambil terdistraksi cenderung mengonsumsi camilan lebih banyak di waktu berikutnya karena memori tentang makanan sebelumnya kurang terbentuk dengan baik.
Di Yogyakarta, dosen psikologi kesehatan Universitas Gadjah Mada, Arif Nugroho, menambahkan bahwa kebiasaan ini juga berdampak pada kesehatan mental dan relasi sosial. Ia mengamati perubahan pola interaksi di banyak keluarga muda. “Meja makan dulu menjadi ruang berbagi cerita. Sekarang, masing-masing sibuk dengan layar. Ikatan emosional bisa melemah jika ini terjadi terus-menerus,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa makan bersama tanpa distraksi membantu membangun kedekatan dan empati. Percakapan ringan saat makan memberi ruang bagi anggota keluarga untuk saling memahami kondisi satu sama lain.
Ketika gawai mengambil alih perhatian, momen tersebut tereduksi menjadi sekadar rutinitas fisik. Dalam jangka panjang, anak-anak yang terbiasa makan sambil menonton layar berisiko mengalami kesulitan dalam mengembangkan kebiasaan makan sadar atau mindful eating.
Dampak lainnya muncul pada sistem pencernaan. Walau bukan semata-mata faktor psikologis, kondisi emosional dan fokus saat makan memengaruhi kerja lambung dan usus.
Rina menuturkan bahwa stres ringan akibat konten tertentu misalnya berita negatif atau adegan menegangkan dapat memicu respons tubuh yang kurang ideal saat makan. “Tubuh kita dirancang untuk mencerna makanan dalam keadaan rileks. Jika pikiran tegang atau terlalu terstimulasi, proses pencernaan bisa terganggu,” katanya.