RADARMUKOMUKO.COM - Aroma khas daun sirih yang direbus perlahan di atas tungku kayu menghadirkan suasana yang akrab di banyak rumah pedesaan. Uapnya tipis, menyatu dengan embun pagi, sementara air yang semula bening berubah menjadi kehijauan.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, rebusan air sirih bukan sekadar minuman tradisional, melainkan warisan pengetahuan yang telah dijaga lintas generasi sebagai penopang kesehatan keluarga.
Di sejumlah daerah di Sumatera dan Jawa, kebiasaan meminum air sirih biasanya dilakukan saat tubuh terasa kurang nyaman, terutama ketika muncul keluhan pada tenggorokan, bau mulut, atau gangguan ringan pada sistem pencernaan.
Tradisi ini kembali ramai dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan herbal yang dianggap lebih alami dan minim efek samping.
Nurhayati, warga Mukomuko, Bengkulu, mengaku rutin menyiapkan rebusan air sirih di rumahnya, terutama saat musim pancaroba. “Kalau anak-anak mulai batuk ringan atau sariawan, saya buatkan air sirih hangat. Biasanya diminum sekali sehari,” tuturnya. Ia belajar kebiasaan itu dari ibunya, yang sejak dulu memanfaatkan tanaman sirih yang tumbuh merambat di pekarangan rumah.
Secara ilmiah, daun sirih dikenal dengan nama Piper betle. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa aktif seperti eugenol, chavicol, dan tanin yang memiliki sifat antiseptik dan antiinflamasi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology menyebutkan bahwa ekstrak daun sirih memiliki aktivitas antibakteri yang cukup kuat terhadap beberapa jenis bakteri penyebab infeksi ringan di rongga mulut dan saluran pencernaan.
Manfaat yang paling sering dirasakan masyarakat adalah membantu menjaga kesehatan mulut. Air rebusan sirih dipercaya mampu mengurangi bau mulut dan mempercepat penyembuhan luka kecil seperti sariawan.
Dr. Rina Pramesti, seorang dokter umum di Kota Bengkulu, menjelaskan bahwa kandungan antiseptik alami pada daun sirih memang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. “Namun tetap perlu diingat, ini bersifat pendukung. Untuk infeksi berat atau berkepanjangan, tetap diperlukan pemeriksaan medis,” ujarnya saat ditemui di kliniknya.
Selain itu, rebusan air sirih juga kerap digunakan untuk membantu meredakan gangguan pencernaan ringan. Beberapa warga mengonsumsinya saat mengalami perut kembung atau rasa tidak nyaman setelah makan.
Dalam studi yang dimuat di Pharmacognosy Reviews, disebutkan bahwa senyawa fenolik dalam daun sirih berpotensi membantu proses pencernaan dan memiliki efek antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Di kalangan perempuan, air sirih juga dikenal sebagai minuman tradisional untuk menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim. Meski demikian, para ahli mengingatkan agar penggunaannya tidak berlebihan.
“Pemakaian yang terlalu sering atau terlalu pekat justru bisa mengganggu keseimbangan flora alami tubuh,” jelas Dr. Rina. Ia menyarankan agar rebusan dibuat dengan takaran wajar, yakni beberapa lembar daun direbus dalam air bersih hingga mendidih, lalu disaring sebelum diminum dalam keadaan hangat.
Kapan waktu terbaik untuk meminum air sirih sering kali bergantung pada tujuan penggunaannya. Sebagian orang memilih meminumnya pada pagi hari sebelum beraktivitas, sementara yang lain mengonsumsinya pada malam hari untuk membantu meredakan tenggorokan yang terasa kering. Di beberapa desa, kebiasaan ini bahkan menjadi bagian dari ritual perawatan diri yang dilakukan seminggu sekali.
Bagaimana cara mengolahnya pun relatif sederhana. Daun sirih segar dicuci bersih, diremas ringan untuk mengeluarkan aroma alaminya, lalu direbus dalam dua hingga tiga gelas air hingga tersisa setengahnya.