Suara Alam yang Menenangkan Pikiran di Tengah Riuh Kehidupan

Sabtu 14-02-2026,12:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM - Pagi itu, kabut tipis menggantung di sela pepohonan pinus di kaki Gunung Salak. Dari kejauhan terdengar gemericik air yang jatuh perlahan menimpa bebatuan sungai. 

Angin bergerak pelan, menggesek daun-daun kering yang saling bersentuhan, menciptakan irama alami yang nyaris tak disadari namun terasa menyusup ke dalam dada. 

Di tengah dunia yang kian bising oleh deru mesin dan notifikasi tanpa henti, suara-suara alam seperti itu menjelma oase yang menenangkan pikiran dan meredakan kegelisahan.

Fenomena ketenangan yang muncul dari suara alam bukan sekadar kesan subjektif. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti dari berbagai negara menaruh perhatian pada bagaimana bunyi air mengalir, kicau burung, atau desau angin di hutan memengaruhi kondisi psikologis manusia. 

Di Indonesia, tren kembali ke alam semakin terasa sejak masa pandemi, ketika masyarakat mencari ruang terbuka untuk mengurangi tekanan mental akibat pembatasan sosial dan ketidakpastian ekonomi.

Di kawasan wisata alam di Bogor, Jawa Barat, pengelola mencatat peningkatan kunjungan signifikan pada akhir pekan sejak 2023. Banyak pengunjung datang bukan semata untuk berolahraga, melainkan untuk duduk diam, mendengarkan suara hutan. 

“Orang-orang sering bilang mereka datang ke sini untuk ‘mencari sunyi’,” ujar Ardi Pranata, pengelola salah satu taman konservasi di wilayah tersebut. Ia melihat perubahan perilaku pengunjung yang kini lebih menghargai suasana alami dibanding sekadar berfoto. 

“Mereka duduk lebih lama, memejamkan mata, dan benar-benar menikmati suara air dan burung,” katanya.

Apa yang dirasakan para pengunjung itu sejalan dengan temuan ilmiah. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports pada 2021 menunjukkan bahwa paparan suara alam secara signifikan menurunkan tingkat stres dan meningkatkan suasana hati. 

Penelitian tersebut menganalisis puluhan eksperimen di berbagai negara dan menemukan bahwa suara air mengalir serta kicau burung memiliki efek paling kuat dalam menurunkan tekanan psikologis.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rika Mahardini, menjelaskan bahwa otak manusia secara evolusioner terbiasa dengan pola suara alam. “Sejak ribuan tahun lalu, manusia hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan padang rumput. 

Otak kita mengenali suara-suara itu sebagai sinyal lingkungan yang aman,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, awal bulan ini. Ia menambahkan bahwa suara alam cenderung memiliki frekuensi yang lembut dan ritme yang tidak mengagetkan, sehingga membantu sistem saraf memasuki kondisi relaksasi.

 

Di tengah kota besar seperti Jakarta, kebutuhan akan ketenangan menjadi semakin mendesak. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa polusi suara di perkotaan dapat meningkatkan risiko gangguan tidur dan stres kronis. 

Dalam situasi seperti itu, banyak warga mencoba menghadirkan kembali nuansa alam ke dalam ruang pribadi mereka. Aplikasi pemutar suara hujan, video ambience hutan, hingga mesin white noise menjadi pilihan praktis bagi mereka yang tak sempat keluar kota.

Tags :
Kategori :

Terkait