“Jika dibiarkan, masyarakat akan terbiasa melihat perbedaan sebagai ancaman, bukan kekayaan,” ungkap Dr. Ade. Kondisi ini berbahaya bagi negara majemuk seperti Indonesia yang berdiri di atas keragaman.
Meski demikian, politik adu domba bukan sesuatu yang tak bisa dilawan. Peran pendidikan politik menjadi krusial untuk membangun daya tahan masyarakat terhadap manipulasi.
Literasi media membantu publik memilah informasi dan tidak mudah terprovokasi. Selain itu, keteladanan dari elite politik sangat menentukan. Ketika pemimpin memilih narasi persatuan dan etika, tensi politik dapat diredam tanpa mengorbankan kompetisi yang sehat.
Media massa juga memegang peran penting sebagai penyeimbang. Dengan mengedepankan jurnalisme yang beretika dan berorientasi pada kepentingan publik, media dapat mencegah normalisasi ujaran kebencian. Ruang dialog yang inklusif perlu diperluas agar perbedaan pandangan tidak selalu berujung pada konflik.
Sumber berita:
1. Mudde, C. (2019). The Far Right Today. Polity Press.
2. Habermas, J. (2006). Political Communication in Media Society. Communication Theory, 16(4), 411–426.
3. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). (2023). Kajian tentang polarisasi sosial dan politik identitas di Indonesia.