Biji-Biji Ini yang Sering Ditemukan pada Penderita Usus Buntu

Senin 09-02-2026,14:52 WIB
Reporter : Tim Redaksi RM
Editor : Tim Redaksi RM

RADARMUKOMUKO.COM - Usus buntu atau apendisitis selama ini dikenal sebagai kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan cepat. Namun, dalam banyak kasus, dokter menemukan pemicu yang tak terduga saat tindakan operasi dilakukan: sisa biji-bijian kecil yang tersangkut di rongga usus buntu.

Usus buntu merupakan organ kecil berbentuk kantong yang terhubung dengan usus besar. Ketika salurannya tersumbat, bakteri mudah berkembang dan memicu peradangan.

Sumbatan inilah yang sering kali berasal dari tinja mengeras, tetapi pada sejumlah pasien, dokter justru menemukan biji-bijian yang tidak tercerna dengan baik. Dr. Andi Pramono, Sp.B, dokter bedah digestif di sebuah rumah sakit rujukan di Jakarta, menjelaskan bahwa temuan tersebut bukan hal langka. “Dalam praktik klinis, kami cukup sering menjumpai biji buah atau sisa makanan keras di dalam usus buntu pasien apendisitis,” ujarnya.

Salah satu biji yang paling sering ditemukan berasal dari cabai. Dalam budaya makan masyarakat Indonesia, cabai hampir selalu hadir di meja makan, baik sebagai sambal maupun campuran masakan.

Biji cabai berukuran kecil, keras, dan kerap tertelan tanpa disadari. Ketika sistem pencernaan tidak mampu menghancurkannya secara sempurna, biji ini dapat melaju hingga ke usus besar dan berpotensi masuk ke saluran usus buntu.

“Biji cabai tidak otomatis menyebabkan usus buntu, tetapi pada kondisi tertentu, ia bisa menjadi faktor pencetus sumbatan,” kata Andi.

Selain cabai, biji jambu biji juga sering dilaporkan ditemukan pada penderita apendisitis. Jambu biji dikenal kaya serat dan menyehatkan, namun bijinya yang keras dan jumlahnya banyak menjadi tantangan tersendiri bagi pencernaan.

Pada anak-anak dan remaja, yang cenderung mengonsumsi buah tanpa mengunyah biji secara optimal, risiko ini menjadi lebih nyata. Andi menuturkan bahwa beberapa kasus apendisitis pada usia muda menunjukkan keberadaan biji jambu yang terperangkap di rongga usus buntu.

Biji semangka turut masuk dalam daftar temuan yang kerap muncul. Buah yang populer terutama saat musim panas ini sering dimakan bersama bijinya, baik sengaja maupun tidak. Biji semangka yang tertelan utuh dapat bertahan dalam saluran cerna lebih lama.

Dalam kondisi usus yang pergerakannya melambat atau anatomi usus buntu yang sempit, biji tersebut berpotensi menetap dan memicu peradangan. “Faktor anatomi setiap orang berbeda. Ada usus buntu yang posisinya membuat benda asing lebih mudah masuk dan sulit keluar,” jelas Andi.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa biji-bijian bukan satu-satunya penyebab usus buntu. Penyakit ini bersifat multifaktorial, melibatkan kombinasi antara sumbatan mekanis, infeksi, dan respons imun tubuh.

Biji hanya menjadi salah satu elemen pemicu pada situasi tertentu. Banyak orang menelan biji tanpa pernah mengalami masalah apa pun. Namun, pada individu dengan kebiasaan makan tertentu, kurang asupan cairan, atau gangguan pergerakan usus, risiko dapat meningkat.

Cara pencegahan yang paling realistis bukanlah menghindari buah atau makanan sehat, melainkan mengonsumsinya dengan bijak.

 Mengunyah makanan secara perlahan, memperhatikan biji yang keras, serta memastikan asupan serat dan cairan yang cukup menjadi langkah sederhana namun penting. “Serat justru baik untuk pencernaan, tetapi harus diimbangi dengan air yang cukup agar tidak mengeras di usus,” ujar Andi.

Kesadaran ini menjadi penting terutama di tengah gaya hidup serba cepat, ketika makan sering dilakukan tanpa perhatian penuh. Usus buntu kerap datang tanpa peringatan, tetapi memahami faktor-faktor kecil yang berkontribusi dapat membantu menurunkan risikonya.

Tags :
Kategori :

Terkait