RADARMUKOMUKO.COM Benjolan kecil yang tumbuh perlahan di bawah kulit kerap kali hadir tanpa rasa nyeri dan tanpa gejala yang mengganggu. Banyak orang baru menyadarinya ketika ukuran benjolan mulai terasa saat disentuh atau tampak secara visual.
Fenomena inilah yang sering mengarah pada lipom, salah satu jenis tumor jinak yang paling umum ditemukan pada jaringan lemak manusia. Meski tidak berbahaya dalam banyak kasus, kehadirannya kerap memunculkan kegelisahan dan pertanyaan tentang asal-usulnya.
Lipom merupakan pertumbuhan jaringan lemak yang terjadi secara perlahan dan umumnya terasa lunak serta mudah digerakkan di bawah kulit. Kondisi ini bisa muncul pada siapa saja, baik pria maupun perempuan, dan sering kali mulai terdeteksi pada usia dewasa.
Menurut data yang dipublikasikan oleh Journal of Clinical Medicine, lipom paling sering ditemukan pada rentang usia 40 hingga 60 tahun, meskipun tidak menutup kemungkinan muncul lebih awal. Lokasinya pun beragam, mulai dari leher, bahu, punggung, lengan, hingga paha.
Faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama yang banyak disepakati oleh para ahli. Dokter spesialis bedah onkologi, dr. Andi Kurniawan, Sp.B(K)Onk, menjelaskan bahwa lipom kerap ditemukan berulang dalam satu garis keturunan.
“Jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan riwayat lipom, kemungkinan untuk mengalami kondisi serupa akan lebih besar dibandingkan populasi umum,” ujarnya. Faktor ini menunjukkan bahwa kecenderungan tubuh membentuk lipom bisa diwariskan secara biologis.
Selain genetik, gangguan metabolisme lemak juga disebut berperan dalam pertumbuhan lipom. Meski lipom tidak selalu berkaitan dengan kelebihan berat badan, ketidakseimbangan dalam pengelolaan lemak oleh tubuh dapat memicu penumpukan sel lemak yang tumbuh tidak terkontrol.
Penelitian dalam International Journal of Dermatology mencatat bahwa beberapa pasien lipom menunjukkan kelainan ringan pada metabolisme lipid, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus dikaji.
Trauma fisik juga kerap dikaitkan dengan munculnya lipom, terutama pada area tubuh yang pernah mengalami benturan atau tekanan berulang. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai post-traumatic lipoma.
Dr. Andi menuturkan bahwa meski tidak semua benturan berujung lipom, peradangan lokal yang terjadi setelah cedera diduga dapat memicu pertumbuhan jaringan lemak abnormal. “Lipom sering muncul beberapa bulan setelah trauma, sehingga pasien jarang mengaitkannya secara langsung,” katanya.
Aspek hormonal turut menjadi perhatian, terutama karena lipom lebih sering terdeteksi pada usia dewasa ketika perubahan hormonal cukup signifikan.
Beberapa studi menyebutkan bahwa hormon insulin dan kortisol memiliki pengaruh tidak langsung terhadap diferensiasi sel lemak. Dalam konteks ini, lipom dipandang sebagai hasil dari proses biologis jangka panjang, bukan akibat satu faktor tunggal yang berdiri sendiri.
Lingkungan dan gaya hidup juga tidak sepenuhnya bisa dikesampingkan. Pola hidup sedentari, stres kronis, serta pola makan tinggi lemak jenuh dinilai dapat memperburuk kondisi metabolisme tubuh.
Meski belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa pola makan tertentu secara langsung menyebabkan lipom, para ahli sepakat bahwa gaya hidup sehat berperan dalam menjaga keseimbangan sistem tubuh. “Lipom memang jinak, tetapi kemunculannya sering menjadi alarm bahwa tubuh sedang tidak berada dalam kondisi ideal,” ungkap dr. Andi.