Hakikat Berqurban Menurut Al-Qur’an

Hakikat Berqurban Menurut Al-Qur’an

Hewan Kurban di Kabupaten Mukomuko-Radar Mumuko-Amris

 

RADARMUKOMUKO.COM - Setiap kali bulan Zulhijah tiba, gema takbir kembali memenuhi langit masjid dan rumah-rumah kaum Muslimin. Di tengah suasana itu, hewan-hewan qurban mulai disiapkan, tali-tali pengikat dipasang, dan tangan-tangan penuh harap bersiap menjalankan ibadah yang telah diwariskan sejak Nabi Ibrahim AS. 

Namun di balik penyembelihan itu, Al-Qur’an sesungguhnya menghadirkan makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar ritual tahunan. Qurban bukan hanya tentang darah dan daging, melainkan tentang ketundukan hati manusia di hadapan Allah SWT.

Hakikat tersebut ditegaskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37. Allah berfirman bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan dari orang yang berqurban. 

Ayat ini menjadi fondasi penting bahwa inti qurban terletak pada keikhlasan dan penghambaan. Penyembelihan hanyalah simbol lahiriah dari pengorbanan batin seorang hamba yang rela menundukkan ego, cinta dunia, dan kepentingan pribadi demi meraih ridha Allah.

Imam Syafi’i dalam penjelasannya menegaskan bahwa ibadah qurban merupakan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Menurut beliau, qurban menjadi bentuk nyata rasa syukur atas nikmat kehidupan yang Allah berikan. 

Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i menerangkan bahwa ibadah ini mengandung nilai pendekatan diri kepada Allah sekaligus memperkuat solidaritas sosial melalui pembagian daging kepada fakir miskin dan masyarakat luas.

“Qurban adalah bentuk ketaatan yang memperlihatkan rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya,” demikian penjelasan yang dinisbatkan kepada pandangan Imam Syafi’i dalam karya-karya fiqih mazhab Syafi’iyah.

Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam tafsir monumentalnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat tentang qurban mengandung pesan agar manusia tidak terjebak pada simbol semata. 

Menurut beliau, masyarakat Arab jahiliyah dahulu sering mengagungkan darah persembahan sebagai bentuk pendekatan kepada tuhan-tuhan mereka. Islam kemudian datang meluruskan keyakinan tersebut dengan menegaskan bahwa yang paling bernilai di sisi Allah adalah ketakwaan.

Imam Al-Qurthubi menafsirkan bahwa qurban sejatinya merupakan latihan spiritual agar manusia mampu mematikan sifat tamak dan cinta berlebihan terhadap harta benda. Ketika seseorang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan qurban, sesungguhnya ia sedang belajar mengalahkan dirinya sendiri.

Di berbagai daerah, semangat qurban juga menghadirkan pemandangan yang menyentuh. Warga bergotong royong membantu proses penyembelihan, kaum muda membagikan daging dari rumah ke rumah, sementara masyarakat kurang mampu merasakan kebahagiaan yang mungkin hanya datang setahun sekali. Di situlah qurban berubah menjadi jembatan kemanusiaan yang mempererat hubungan sosial.

Ustaz Abdul Karim, seorang pengasuh pesantren di Bengkulu, mengatakan bahwa banyak orang masih memahami qurban sebatas ibadah fisik. Padahal, menurutnya, qurban adalah pendidikan jiwa.

“Kalau hanya menyembelih hewan, semua orang bisa melakukannya. Tetapi menyembelih kesombongan, sifat kikir, dan cinta dunia, itu yang lebih berat. Di situlah nilai qurban sebenarnya,” ujarnya.*

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: