Mengapa Salat Idul Adha Disunahkan Dilaksanakan Pagi dan di Tanah Lapang
8 Rangkaian Ibadah Haji yang Dilakukan Umat Muslim bagi yang Menjalankan di Hari Raya Idul Adha-Ilustrasi-Berbagai Sumber
RADARMUKOMUKO.COM - Fajar baru saja menyingsing ketika ribuan umat Islam mulai berjalan menuju tanah lapang. Anak-anak mengenakan pakaian terbaiknya, para orang tua membawa sajadah di pundak, sementara gema takbir menggema dari berbagai penjuru kampung.
Suasana itu bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari syiar besar Islam yang telah diwariskan sejak masa Rasulullah SAW. Salat Idul Adha yang dilaksanakan pada pagi hari dan di tempat terbuka menyimpan hikmah mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga persaudaraan dan semangat pengorbanan.
Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW terbiasa melaksanakan salat Id di tanah lapang bersama kaum Muslimin. Praktik ini kemudian diikuti para sahabat dan menjadi sunnah yang terus hidup hingga hari ini.
Waktu pelaksanaannya yang dilakukan lebih pagi dibanding Idul Fitri juga bukan tanpa alasan. Para ulama menjelaskan bahwa Idul Adha berkaitan erat dengan ibadah qurban, sehingga penyegeraan salat memberi kesempatan lebih luas kepada umat Islam untuk segera menyembelih hewan qurban setelah ibadah selesai.
Umar bin Khattab RA pernah menegaskan bahwa hari raya dalam Islam bukan hanya momentum kegembiraan, tetapi juga waktu memperlihatkan syiar agama secara terbuka.
BACA JUGA:Dana Bedah Rumah Untuk 132 Warga Miskin di Mukomuko Cair
BACA JUGA:Sidodadi Kembali Merebut Juara Lomba Desa Tingkat Kecamatan
Dalam beberapa riwayat yang dikutip para ulama, Umar mendorong umat Islam berkumpul di tempat luas agar persatuan dan kekuatan kaum Muslimin tampak nyata di hadapan masyarakat. Menurutnya, salat Id di tanah lapang menghadirkan rasa kebersamaan yang sulit dirasakan jika dilakukan secara terpisah-pisah di ruang sempit.
“Islam mengajarkan kebersamaan yang tampak dan terasa. Hari raya adalah waktu ketika umat berdiri sejajar tanpa perbedaan,” demikian makna yang banyak dijelaskan dari pandangan Umar bin Khattab dalam kitab-kitab atsar dan sejarah Islam.
Pandangan serupa juga datang dari Ali bin Abi Thalib RA. Khalifah keempat itu dikenal sangat menjaga syiar ibadah berjamaah. Dalam beberapa riwayat, Ali menyebut bahwa pelaksanaan salat Id di tanah lapang memperlihatkan kerendahan hati manusia di hadapan Allah SWT.
Tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan miskin. Semua berdiri di atas tanah yang sama, menghadap kiblat yang sama, serta mengumandangkan takbir yang sama.
Menurut Ali bin Abi Thalib, suasana itu menjadi simbol kuat tentang persatuan umat dan penghambaan kepada Allah. Di tempat terbuka, manusia diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sementara kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: