Bila Harga Sawit Pecah dari Rp1.000 Banyak Petani Akan Jual Kebunnya
Produktivitas Menurun, Petani Sawit Mukomuko Ajukan Replanting 800 Hektare--
RADARMUKOMUKO.COM - Bagi sebagian petani sawit , turunnya harga bukan sekadar persoalan pasar, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup dan kemampuan mereka bertahan dari tekanan ekonomi yang semakin berat.
Regar, seorang pemilik kebun sawit di wilayah danau nibung, mengaku kondisi saat ini mulai membuat banyak petani resah. Menurutnya, jika harga sawit terus merosot hingga menembus angka Rp1.000 per kilogram dan berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin banyak kebun sawit milik warga akan berpindah tangan.
“Kalau kondisi ini lama, saya menduga banyak petani akan jual kebunnya. Sebab hampir petani sawit sekarang banyak yang terikat pinjaman bank,” ujar Regar saat ditemui di kawasan perkebunan warga.
Ia menjelaskan, sebagian besar petani selama ini menggantungkan pembayaran cicilan dari hasil panen sawit. Ketika harga masih stabil, kebutuhan rumah tangga dan kewajiban keuangan masih bisa ditutupi. Namun saat harga turun drastis, penghasilan petani ikut tergerus sementara biaya pupuk, perawatan kebun, dan kebutuhan sehari-hari terus naik.
Menurut Regar, situasi tersebut menjadi pukulan berat bagi petani kecil yang tidak memiliki cadangan ekonomi cukup kuat. Ia melihat mulai muncul kekhawatiran di kalangan masyarakat karena hasil panen yang biasanya menjadi penopang utama ekonomi keluarga kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar secara maksimal.
BACA JUGA:Jumlah Qurban Tahun Ini Bakal Turun, Harga Sapi Tembus 15 Juta
BACA JUGA:Pekan Koto Jaya Mukomuko, Semua Harga Naik Sedang Harga Sawit Turun
Di tengah kekhawatiran itu, pandangan berbeda justru datang dari Fahran, tokoh muda generasi Z di Mukomuko. Ia menilai penurunan harga sawit saat ini hanya bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama. Fahran optimistis pasar sawit akan kembali membaik karena permintaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional masih tinggi.
“Saya memprediksi kondisi sawit turun ini tidak akan lama dan akan segera pulih. Bahkan kemungkinan harga bisa lebih tinggi lagi,” kata Fahran.
Menurutnya, industri global masih sangat bergantung pada CPO sebagai bahan baku utama berbagai produk kebutuhan masyarakat dunia. Mulai dari minyak goreng, sabun, hingga kosmetik masih menggunakan turunan sawit dalam jumlah besar. Karena itu, ia percaya permintaan pasar akan tetap terjaga dalam jangka panjang.
“CPO di luar negeri masih dibutuhkan untuk dasar bahan pokok perusahaan minyak makan, sabun, dan kosmetik. Jadi peluang harga naik lagi tetap besar,” ujarnya.
Pendapat Fahran memberi sedikit harapan di tengah keresahan petani. Meski demikian, kondisi saat ini tetap menjadi ujian berat bagi masyarakat yang ekonominya bergantung penuh pada sektor perkebunan sawit. Di pasar-pasar tradisional Mukomuko, penurunan harga sawit mulai terasa dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Sebagian warga kini memilih mengurangi pengeluaran dan menunda kebutuhan tertentu demi bertahan menghadapi situasi yang belum menentu. Para petani berharap ada kestabilan harga agar roda ekonomi desa tetap bergerak dan masyarakat tidak kehilangan aset utama mereka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: