Harga TBS Sawit Terjun Bebas, Takut Rugi Toke Sawit Rem Pembelian Buah Petani
Ketetapan Provinsi Rp 2.893 Per-kg, Harga TBS di Mukomuko Turun Hingga Rp 2.500 Per-kg --
RADARMUKOMUKO.COM - Tandan buah segar yang telah matang dan siap dipanen hanya menggantung di pohon, sementara para petani menunggu kepastian pembeli yang tak kunjung datang.
Harga sawit yang terus turun membuat para toke memilih menahan pembelian karena pasar dinilai belum stabil.
Kondisi itu dirasakan langsung oleh Maesa, pemilik kebun sawit seluas lima hektar di Mukomuko. Jadwal panen di kebunnya sebenarnya sudah tiba.
Buah sawit telah cukup umur dan harus segera dipanen agar kualitasnya tidak menurun. Namun hingga kini, ia masih belum berani memanen seluruh hasil kebunnya karena toke langganannya belum bersedia membeli tandan buah segar atau TBS.
“Sekarang kami serba bingung. Buah sudah matang, jadwal panen sudah sampai, tapi toke belum mau beli karena harga belum stabil. Harga sawit juga terus turun, bahkan sekarang sudah di bawah Rp2.000 per kilogram,” ujar Maesa saat ditemui di kebunnya, Jumat pagi.
BACA JUGA:Perang Awal Yang Menjadi Pemicu Peristiwa Bandung Lautan Api
BACA JUGA:5 Cara untuk Melihat Karakter Orang Lain Melalui Hidung
Bagi petani sawit seperti dirinya, situasi tersebut bukan sekadar persoalan harga rendah. Ketika buah terlambat dipanen, kualitas sawit bisa menurun dan berdampak pada harga jual yang semakin kecil.
Di sisi lain, biaya perawatan kebun tetap berjalan. Mulai dari pupuk, pembersihan lahan, hingga ongkos tenaga panen tetap harus dibayar.
Maesa mengaku pendapatan petani saat ini semakin tidak menentu. Ia bahkan mulai khawatir jika kondisi itu berlangsung lebih lama. Menurutnya, banyak petani kecil di Mukomuko menggantungkan kehidupan sehari-hari dari hasil sawit.
Ketika penjualan tersendat,damapak dari pidato Priseden Prabowo kini roda ekonomi keluarga ikut melambat.
“Kami ini berharap dari sawit untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, dan kebutuhan lain. Kalau buah tidak dibeli, kami juga kesulitan,” katanya dengan nada lirih.
Kondisi serupa juga disampaikan Adie, seorang tenaga dodos yang sehari-hari bekerja memanen sawit milik warga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: