Begini Trik Petani Atasi Padi Roboh Agar Hasil Panen Tetap Maksimal
Cuaca Ekstream, Tanaman Padi di Kecamatan Lubuk Pinang Mulai Roboh--
RADARMUKOMUKO.COM – Jelang panen, jumlah tanaman padi roboh akibat angina kencang dan hujan deras di wilayah Kecamatan Lubuk Pinang, terus bertambah. Mengatasi hal tersebut, petani punya trik tersendiri agar hasil panen tetap maksimal. Pasalnya jika padi roboh, hasil panen akan berkurang, karena bulir padi bisa busuk sebelum dipanen.
Selain itu mesin combine juga tidak bisa maksimal memanen padi yang roboh. Guna mengatasi hal tersebut, petani mengikat beberapa batang padi yang roboh agar bisa kembali berdiri.
Putra, salah seorang petani mengatakan, jelang panen memang cukup banyak padi petani yang roboh, terlebih varietas inpari. Hal tersebut akibat hujan lebat dan angin kencang yang terjadi beberapa waktu lalu. Jika tanaman padi yang roboh hanya dibiarkan begitu saja, tentu petani akan merugi.
Guna mengatasi hal itu, mereka punya trik tersendiri. Dimana batang padi yang roboh harus kembali berdiri, agar buahnya tak busuk, tidak kotor dan bisa dipanen secara maksimal. Adapun triknya, batang padi yang roboh diikat satu sama lain agar bisa berdiri.
“Bukan sawah saya saja, mayoritas sawah milik petani lain padinya juga banyak roboh. Maka dari itu, agar hasil panen tetap bisa maksimal, batang padi roboh berdirikan lagi dengan cara diikat,”katanya.
Lanjutnya, tapi kegiatan mengikat padi roboh tentu menambah biaya pengeluaran. Pasalnya padi roboh tidak bisa diikat sendiri dan harus melibatkan orang lain. Seperti disawahnya, ia mengajak dua orang untuk membantu mengikat padi yang roboh. Masing-masing orang yang membantu dibayar Rp 150 ribu per hari.
BACA JUGA:Kondisi Jalan Provinsi di Desa Pondok Tengah Rusak Parah
BACA JUGA:Pemerintah Pastikan Timbangan Sawit Akurat, Upaya Lindungi Petani dari Kerugian Transaksi
Tapi masih bersyukur proses pengikatan padi roboh disawahnya bisa selesai dalam waktu satu hari, karena tidak terlalu luas. Tapi bayangkan petani lain yang hampir satu hamparan sawah, padinya roboh semua, biaya mengikatnya juga lebih besar.
“Kalau tidak diikat, bulir padi bisa busuk dan mengurangi hasil panen. Harga gabah padi roboh juga lebih murah. Tapi begitu lah, harus mengeluarkan biaya lagi untuk upah mengikat padi,”tambahnya.
Fauzan, petani di Desa Lubuk Gedang, mengatakan, di desanya juga banyak padi roboh. Bahkan sawah-sawah dipinggir jalan provinsi mayoritas roboh, dan sekarang semuanya sudah diikat. Karena kalau tidak diikat, akan mengurangi hasil panen. Selain itu, harga gabah dari padi yang roboh juga bisa lebih murah. Oleh sebab itu, dari pada petani lebih merugi, mereka memilih untuk mengikat batang padi agar bisa kembali berdiri.
“Ya kita di Lubuk Gedang juga banyak padi yang roboh, lihat saja dari pinggir jalan, nampak padi-padi yang sudah diikat,”tutupnya.*
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: