Dormansi Kekuasaan ataukah Onani Wacana

Dormansi Kekuasaan ataukah Onani Wacana

Irsyad--

 

Penulis : Irsyad

Direktur Oemah Demokrasi Mukomuko

Beberapa waktu belakangan ini dalam pikiran penulis berkutat 2 (dua) kata kiasan ini yang menggambar fenomena nyata yang terjadi dan di suguhkan di hadapan publik. Keresahan ini hadir tentu bukan tanpa sebab.

Sebelum melanjutkan, penulis menyampaikan terlebih dahulu Disclamer, bahwa pemilihan kata "Dormansi Kekuasaan" dan "Onani Wacana" dalam sebuah kritikan sosial ini adalah kiasan yang mencoba untuk menggambarkan keadaan sebenarnya.

Jeritan rakyat atas kehadiran pemimpinnya dalam berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari tentu merupakan sebuah keharusan, sebab pemimpin tersebut di pilih untuk "Melayani" rakyat yang memilihnya dalam sebuah kontestasi Demokrasi.

Pemimpin yang di beri amanah oleh rakyat untuk mengelola pemerintahan dengan segala fasilitas dan anggaran diharapkan mampu menghadirkan solusi bagi kabutuhan dasar rakyat. Ketika rakyat memerlukan akses inspastruktur (jalan dan jembatan), maka pemerintah harus hadir memberikan akses tersebut, ketika rakyat membutuhkan jaminan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pangan, rumah yang layak dan lain sebagainya, maka pemerintah harus hadir pula memberikan solusi dan aksi nyatanya. Termasuk pula dengan peristiwa lain yang terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti kebakaran, kebanjiran, kondisi ekonomi sulit, gangguan keamanan ketertiban dan lain sebagainya.

Pertanyaannya kemudian apakah pemerintah sudah hadir dalam keresahan rakyat itu?

Justru malah sebaliknya pemerintah sibuk berkutat dengan konsep-konsep, kajian-kajian, analisis-analisis dan berbagai seremoni acara seakan tidak tau atau bingung dengan apa yg sebenarnya di butuhkan rakyat hari ini. Seperti kita ketahui berbagai peristiwa sosial, ekonomi dan bencana yang terjadi belakangan ini sebut saja misalnya konflik agraria warga eks transmigari dan masyarakat adat, aksi saling tikam warga karna persoalan panen buah sawit, pelaku UMKM menjerit karena daya beli turun sehingga sebagian besar terjerat hutang ke rentenir berkedok koperasi harian/mingguan, petani menjerit harga pupuk dan obat-obatan pertanian melambung tinggi. Begitu juga dengan musibah dan bencana, dalam sebulan terahir tercatat paling tidak ada 3 (tiga) kali kebakaran hebat yang melanda warga, tak ada yg terisa harta benda ketika petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi, Konflik manusia dengan satwa, bencana banjir yang nyaris menghanyutkan kendaraan dan pengendaranya di Teras Terunjam, ditambah lagi aksi protes warga atas parahnya kondisi jalan mereka sehingga harus di tanami pohon pisang, teatrikal mancing bersama dan lain sebagainya sebagai ungkapan protes dan kekecewaan rakyat.

Dengan berbagai peristiwa kerakyatan tersebut, pemerintah hari ini masih di sibukkan dengan project ambisius dengan konsep-konsep yang mereka sebut diantaranya the green sustainability investment development, Mukomuko Competition Inovation Award (MCIA) hilirisasi sirkular terintegrasi, dan lain sebagainya.

Pertanyaanya kemudian apakah konsep-konsep itu bagus? Iya, untuk program jangka panjang, namun pendekatan program kerja daerah yang tertuang dalam visi dan misi Bupati mesti selaras dengan  RPJMD yang menjadi dokumen arah kebijakan pembangunan daerah.

Lalu apakah rakyat hari ini butuh dengan konsep-konsep ambisius tersebut? Tentu tidak, rakyat hari ini menginginkan jaminan kesejahteraan dari pemimpin daerah sebab anggaran yang di gunakan adalah hasil dari pajak yang mereka bayar, Rakyat hari ini butuh kehadiran pemimpin untuk segala persoalan yang mereka hadapi mulai dari soal ekonomi, pendidikan, kesehatan, insfrastruktur, pertanian, kelautan, keamanan dan ketertiban, serta solusi-solusi atas peristiwa-peristiwa bencana dan lain sebagainya.

Rakyat hari ini tidak begitu "Surprise" dengan berbagai wacana, konsep dan kajian-kajian yang belum tentu jelas bagaimana implementasinya, itu yang kemudian penulis menyebutnya sebagai "Onani Wacana".

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: