Alasan Klasik Harga Karet di Indonesia Selalu Murah

Alasan Klasik Harga Karet di Indonesia Selalu Murah

Alasan Klasik Harga Karet di Indonesia Selalu Murah--

RADARMUKOMUKO.COM -  Di sejumlah daerah sentra karet seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, hingga Kalimantan Barat, keluhan mengenai murahnya harga getah karet sudah menjadi percakapan sehari-hari. Kenaikan harga memang sesekali terjadi, tetapi tidak pernah bertahan lama. Setelah itu, harga kembali turun dan membuat petani harus bertahan dengan pendapatan yang minim.

 

Bagi sebagian petani, situasi ini terasa ironis. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, tetapi para petani justru sering berada dalam posisi paling lemah dalam rantai perdagangan.

 

Ketua kelompok tani karet di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Syahril Amin, mengatakan harga karet di tingkat petani sangat bergantung pada pasar internasional.

 

“Kami di desa hanya mengikuti harga yang sudah ditentukan pengepul. Kalau harga dunia turun, kami langsung kena dampaknya,” ujarnya.

 

Ketergantungan pada pasar global menjadi alasan klasik pertama yang membuat harga karet di Indonesia sulit tinggi. Sebagian besar produksi karet nasional memang diekspor sebagai bahan baku industri, terutama untuk pembuatan ban kendaraan. Ketika industri otomotif dunia melambat, permintaan karet ikut turun dan harga langsung melemah.

 

Situasi ini semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir ketika ekonomi global menghadapi tekanan. Perlambatan industri di sejumlah negara besar membuat permintaan bahan baku menurun. Akibatnya, stok karet dunia meningkat dan harga semakin tertekan.

 

Selain itu, posisi petani Indonesia juga terjebak dalam sistem perdagangan yang panjang. Getah karet dari kebun rakyat biasanya melewati beberapa lapisan sebelum sampai ke pabrik atau pasar ekspor. Mulai dari pengepul kecil, pedagang besar, hingga perusahaan pengolahan, semuanya mengambil keuntungan masing-masing.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: