Erosi Sungai Manjuto, Sawah Petani di Desa Resno Hanyut Terbawa Arus
Erosi Sungai Manjuto, Sawah Petani di Desa Resno Hanyut Terbawa Arus--
RADARMUKOMUKO.COM – Erosi Sungai Manjuto semakin mengkhawatirkan. Seperti di Desa Resno, Kecamatan V Koto, dampak erosi ini menghanyutkan lahan sawah beberapa petani. Bahkan saat ini antara sawah dengan bibir sungai sudah tidak berjarak. Sawah yang terdampak kurang lebih sekitar 5 hektar, milik anggota Kelompok Tani (Poktan), Tanjung Semunung. Peristiwa ini mengakibatkan sebagian sawah terdampak tidak bisa dialiri air. Padahal umur padi para petani berkisar 50 sampai 60 hari setelah tanam (hst) dan sekarang baru mulai tumbuh buah. Padi tersebut harusnya masih sangat membutuhkan air.
Jurnalis, Ketua Poktan Tanjung Semunung, mengatakan, erosi Sungai Manjuto memang telah terjadi cukup lama. Dahulu jarak antara sawah petani dengan bibir sungai sangat jauh. Tapi karena erosi tersebut, jaraknya semakin dekat. Beberapa hari lalu, akibat air sungai naik, erosi kembali terjadi dan dampaknya lebih mengerikan. Dimana saat ini sebagian sawah petani sudah terbawa arus Sungai Manjuto. Sehingga antara lahan sawah dan bibir sungai tidak lagi ada jarak.
“Hujan deras beberapa hari lalu membuat erosi Sungai Manjuto kembali terjadi. Akibat erosi itu lahan sawah kami hanyut terbawa arus,”pungkasnya.
Lebih dari itu, sawah yang terdampak sekarang tidak bisa di isi air. Sehingga saat ini petak sawah yang terdampak kering total. Padahal umur padi petani sekitar 50 sampai 60 hst dan sedang tumbuh buah. Artinya padi ini memang lagi butuh air sampai buahnya matang dan siap panen di umur 95 sampai 110 hst. Oleh sebab itu, selaku petani ia berharap segera ada tindakan dari pemerintah melalui dinas-dinas terkait lainnya. Jika tidak ditindaklanjuti, akan banyak lagi sawah petani yang bakal hilang akibat erosi yang terus terjadi. Karena erosi di lahan persawahan ini terjadi hampir sepanjagn 200 meter lebih. Sedangkan sawah di Poktan Tanjung Semunung dengan luasan sekitar 29,2 hektar (ha).
“Sawah yang terdampak sekarang tidak bsia dialiri air, padahal padi masih sangat membutuhkan air. Agar dampaknya tidak semakin meluas, kami berharap segera ada tindakan dari pemerintah dan dinas terkait, seperti pemasangan bronjong atau sejenisnya,”sambung Jurnalis.
Kades Resno, Mardalius, juga menyampaikan, pihaknya dari pemerintah desa telah beberapa kali berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait soal peristiwa ini. Bahkan kalau anggaran ketahanan pangan Dana Desa (DD) bisa dialihkan ke penanganan erosi tersebut, mereka dari pemerintah desa siap mengucurkannya. Karena sawah merupakan nyawa petani, kalau sawah mereka hilang sama saja seperti menghilangkan nyawa petani. Lebih dari itu, Presiden Prabowo juga mengusung program swasembada pangan, padi dari sawah petani harus dipertahankan guna mewujudkan tujuan itu.
“Kita dari pemerintah desa sudah berupaya menyampaikan peristiwa ini berbagai pihak. Bahkan kalau boleh anggaran ketahanan pangan dari DD mau kita kucurkan untuk penanganan erosi ini,”ucap Kades.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P, dikonfirmasi mengatakan, jika dampak erosi ini terus meluas, tentu akan sangat berdampak buruk. Ia menjelaskan, dampak buruk tersebut seperti penurunan produksi dan luas lahan di Kabupaten Mukomuko. Karena jika erosi terjadi terus-menerus, sawah petani di lokasi tersebut bisa habis. Maka dari itu terkait penanganan erosi, walaupun berdampak ke sawah, tapi diluar tupoksi Dinas Pertanian. Karena ini sifatnya bencana alam, menjadi ranah Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Lebih spesifik lagi Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII.
“Erosi ini berdampak buruk, membuat penurunan produksi dan penurunan luas lahan. Karena jika tidak ditindaklanjuti, sawah petani lama-lama habis. Tapi memang penanganan erosi seperti ini sudah diluar tupoksi kami,”tuturnya.
Disentil soal peninjauan ke lokasi, ia mengatakan, Dinas Pertanian belum mengagendakan peninjauan ke lokasi. Selain itu, sampai sekarang belum ada koordinasi dari Poktan melalui Balai Penyuluh Pertanian (BPP) secara resmi ke pihaknya. Tapi biasanya, Dinas Pertanian turun ke para petani kalau masalah yang berkaitan dengan kondisi tanaman, serangan hama serta kondisi irigasi tersier.
“Kalau untuk turun melakukan peninjauan sampai sekarang belum kita agendakan. Karena biasanya kita turun itu kalau ada koordinasi dari petani soal kondisi tanaman, serangan hama dan kondiri irigasi tersier,”demikian Hari.*
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: