DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Kenali Perbedaan Sakit Jantung dan Sakit Lambung

Kenali Perbedaan Sakit Jantung dan Sakit Lambung

Ini Tanda-Tanda Seseorang Terserang Penyakit Jantung--

RADARMUKOMUKO.COM -  Rasa nyeri di dada sering kali datang tanpa aba-aba, memicu kecemasan yang sulit dijelaskan. Bagi sebagian orang, sensasi itu terasa seperti ditekan, terbakar, atau bahkan menjalar hingga ke lengan. 

Di tengah kepanikan, tak sedikit yang bingung membedakan apakah itu pertanda gangguan jantung yang berbahaya, atau sekadar masalah lambung yang kerap dianggap sepele. Perbedaan yang tampak tipis ini sesungguhnya menyimpan konsekuensi besar jika disalahartikan.

Di berbagai fasilitas kesehatan, dokter kerap menemukan pasien yang datang terlambat karena mengira nyeri dada yang dialami hanyalah gejala asam lambung naik. Padahal, dalam banyak kasus, rasa nyeri tersebut merupakan tanda awal penyakit jantung koroner. 

“Masih banyak masyarakat yang belum mampu membedakan karakter nyeri jantung dan nyeri lambung. Ini yang membuat penanganan sering terlambat,” ujar dr. Andika Pratama, seorang dokter umum di sebuah rumah sakit di Bengkulu, dalam keterangannya pada awal Maret 2026.

Sakit jantung umumnya ditandai dengan nyeri dada yang terasa seperti ditekan benda berat, menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang, dan sering disertai sesak napas serta keringat dingin. 

Rasa nyeri ini bisa muncul saat aktivitas fisik atau stres emosional, dan tidak selalu membaik dengan perubahan posisi tubuh. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otot jantung, yang jika tidak segera ditangani dapat berujung pada serangan jantung.

Sebaliknya, sakit lambung atau gangguan gastroesofageal seperti GERD memiliki karakter yang berbeda. Nyeri biasanya terasa seperti terbakar di dada bagian tengah hingga atas, sering muncul setelah makan, terutama ketika mengonsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak. 

Gejala lain yang menyertai antara lain rasa pahit di mulut, perut kembung, serta sendawa berlebihan. “Nyeri lambung cenderung membaik dengan obat antasida atau setelah pasien beristirahat dalam posisi tegak,” jelas dr. Andika.

Perbedaan ini tidak selalu mudah dikenali, terlebih karena kedua kondisi tersebut sama-sama melibatkan area dada. 

Dalam beberapa kasus, pasien bahkan mengalami gejala tumpang tindih, sehingga membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut seperti elektrokardiogram (EKG) atau endoskopi untuk memastikan diagnosis. 

Hal ini menjadi penting, terutama bagi kelompok berisiko seperti perokok, penderita hipertensi, diabetes, serta individu dengan riwayat keluarga penyakit jantung.

 

Di Bengkulu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit jantung mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. 

Kampanye kesehatan yang digelar oleh dinas kesehatan setempat mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal. Namun, tantangan masih ada, terutama di daerah pedesaan yang akses informasinya terbatas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: