DPRD MUKOMUKO, HUT 23 MUKOMUKO

Ciri-Ciri Haji yang Mabrur dan Perilakunya di Masyarakat

Ciri-Ciri Haji yang Mabrur dan Perilakunya di Masyarakat

Ciri-Ciri Haji yang Mabrur dan Perilakunya di Masyarakat--

RADARMUKOMUKO.COM -  Perjalanan haji selalu menyisakan kisah yang dalam bagi setiap muslim yang menunaikannya. Dari padang Arafah yang sunyi hingga lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah, rangkaian ibadah di Tanah Suci bukan sekadar ritual, tetapi perjalanan spiritual yang menyentuh hati. 

Ketika para jamaah kembali ke tanah air, masyarakat sering menaruh harapan besar: bahwa mereka yang baru pulang dari Makkah membawa perubahan dalam sikap, tutur kata, dan cara hidup.

Di berbagai daerah di Indonesia, kepulangan jamaah haji selalu disambut dengan hangat. Kerabat, tetangga, hingga tokoh masyarakat datang bersilaturahmi, berharap mendapatkan doa sekaligus melihat pancaran ketenangan dari mereka yang baru saja menunaikan rukun Islam kelima. Di balik suasana tersebut, ada satu harapan yang sering disebut dalam tradisi keislaman, yaitu haji yang mabrur.

Istilah haji mabrur merujuk pada ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan nyata dalam kehidupan seseorang. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa balasan bagi haji yang mabrur tidak lain adalah surga. 

“Haji mabrur tercermin dari akhlak. Kalau setelah pulang dari haji seseorang menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih suka menolong orang lain, itu salah satu tanda kemabruran,” ujar Ahmad Zaini dalam sebuah kajian keagamaan di Jakarta.

Perubahan tersebut biasanya terlihat dalam cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Di banyak desa dan kota kecil, jamaah haji yang kembali sering menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai urusan keagamaan. Mereka diminta memimpin doa, memberikan nasihat, atau menjadi teladan dalam kegiatan sosial.

Bagi sebagian orang, perjalanan haji juga menjadi titik balik dalam memperbaiki hubungan dengan orang lain. Banyak jamaah yang sepulang dari Tanah Suci berusaha meminta maaf kepada kerabat atau tetangga yang mungkin pernah disakiti. Sikap ini lahir dari kesadaran spiritual yang semakin kuat setelah menjalani ibadah yang penuh pengorbanan.

Ulama tafsir dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Abdul Karim, menjelaskan bahwa kemabruran haji juga terlihat dari perubahan orientasi hidup. Menurutnya, seseorang yang telah merasakan pengalaman spiritual di Makkah biasanya menjadi lebih sederhana dalam memandang kehidupan dunia.

“Ibadah haji mengajarkan kesetaraan. Di sana semua orang memakai pakaian ihram yang sama, berdiri bersama tanpa memandang status sosial. Pengalaman itu sering membuat seseorang lebih rendah hati ketika kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: