Menuntut Ilmu Ketika Dewasa Laksana Mengukir di Atas Air, Ini Penjelasannya
Menuntut Ilmu Ketika Dewasa Laksana Mengukir di Atas Air, Ini Penjelasannya--
RADARMUKOMUKO.COM - Di sebuah ruang kelas sederhana pada malam hari, beberapa lelaki dan perempuan berusia di atas empat puluh tahun duduk bersisian dengan buku tulis terbuka di hadapan mereka.
Sebagian mengenakan seragam kerja yang belum sempat diganti, sebagian lain membawa tas belanja dari pasar. Wajah mereka menyiratkan lelah, tetapi juga tekad. Mereka datang bukan sekadar untuk mengisi waktu, melainkan untuk mengejar sesuatu yang sempat tertunda: ilmu.
Dalam tradisi lisan masyarakat, dikenal sebuah ungkapan bahwa menuntut ilmu ketika dewasa laksana mengukir di atas air. Kalimat itu mengandung makna simbolik tentang kesulitan menyerap dan mempertahankan pelajaran di usia matang.
Berbeda dengan masa kanak-kanak yang kerap diibaratkan mengukir di atas batubekasnya kuat dan bertahan lamausia dewasa dinilai memiliki tantangan tersendiri.
Ungkapan ini bukan tanpa dasar. Secara biologis, kemampuan kognitif manusia memang mengalami perubahan seiring pertambahan usia. Profesor psikologi pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Mahardika, menjelaskan bahwa daya ingat jangka pendek dan kecepatan memproses informasi cenderung menurun setelah usia tertentu.
“Namun penurunan itu bukan berarti pintu belajar tertutup. Otak orang dewasa tetap memiliki plastisitas, hanya saja membutuhkan strategi yang berbeda,” ujarnya dalam sebuah seminar pendidikan orang dewasa di Jakarta.
Di berbagai kota besar, fenomena kembali belajar di usia dewasa semakin nyata. Program kuliah kelas karyawan, kursus daring, hingga paket kejar ijazah dipenuhi peserta yang sudah berkeluarga.
Mereka datang dengan motivasi yang beragam. Ada yang ingin memperbaiki taraf hidup, ada yang mengejar promosi jabatan, dan ada pula yang terdorong oleh keinginan pribadi untuk tidak berhenti berkembang.
Arif, 45 tahun, seorang sopir logistik di Bekasi, memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana setelah dua dekade bekerja. Ia mengaku awalnya ragu. “Saya takut tidak sanggup mengikuti pelajaran.
Rasanya kepala sudah tidak secepat dulu,” katanya seusai mengikuti perkuliahan malam. Namun dorongan anak-anaknya membuat ia mantap. Setiap malam, ia menyisihkan waktu dua jam untuk membaca dan mencatat ulang materi kuliah. “Memang tidak mudah, tapi saya merasa hidup lebih berarti,” tambahnya.
Dalam perspektif pendidikan modern, belajar pada usia dewasa justru memiliki keunggulan tersendiri. Malcolm Knowles, tokoh teori andragogi, menekankan bahwa orang dewasa belajar dengan pendekatan yang berpusat pada pengalaman.
Mereka tidak lagi sekadar menghafal, melainkan mengaitkan materi dengan realitas hidup. Penelitian yang dipublikasikan dalam Adult Education Quarterly menunjukkan bahwa motivasi intrinsik pada pelajar dewasa sering kali lebih kuat dibandingkan pelajar usia sekolah.
Dr. Rina menegaskan bahwa keberhasilan belajar di usia dewasa sangat dipengaruhi oleh konteks dan metode. Orang dewasa cenderung membutuhkan pembelajaran yang relevan dan aplikatif. “Jika materi terasa dekat dengan kehidupan mereka, proses mengingat akan lebih kuat. Mengukir di atas air bisa berubah menjadi mengukir di atas tanah yang subur,” tuturnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan keterbatasan waktu kerap menjadi hambatan. Banyak peserta kelas malam datang dalam kondisi lelah. Konsentrasi mudah terpecah, dan waktu belajar sering berbenturan dengan kebutuhan domestik. Dalam situasi seperti itu, dukungan lingkungan menjadi faktor penting.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
