Ini Profil Syeh Abdul Kodir Jailani yang Mesti Diketahui
Syeh Abdul Kodir Jailani --
RADARMUKOMUKO.COM - Di antara nama-nama besar dalam sejarah peradaban Islam, Syeh Abdul Kodir Jailani berdiri sebagai sosok yang tidak hanya dikenang karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena keteguhan akhlaknya.
Namanya melintasi zaman, disebut dengan penuh hormat di berbagai penjuru dunia, dari Baghdad hingga Nusantara. Bagi banyak kalangan, ia bukan sekadar ulama, melainkan cahaya spiritual yang jejaknya masih terasa hingga kini.
Syeh Abdul Kodir Jailani lahir pada 1077 Masehi di wilayah Jilan atau Gilan, Persia, yang kini termasuk bagian dari Iran. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kecerdasan dan ketekunan yang menonjol.
Ayahnya, Abu Shalih Musa, dikenal sebagai pribadi saleh, sementara ibunya, Ummul Khair Fatimah, diyakini memiliki nasab yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Lingkungan keluarga yang religius membentuk fondasi keilmuan dan spiritualitasnya sejak usia dini.
Pada usia remaja, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya menuju Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dunia Islam saat itu.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Baghdad pada abad ke-11 menjadi magnet bagi para pencari ilmu, tempat berkumpulnya ulama besar dari berbagai mazhab dan disiplin keilmuan. Di kota itulah, Abdul Kodir muda menimba ilmu fikih, hadis, tafsir, dan tasawuf dari para guru terkemuka.
Menurut catatan sejarawan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Syeh Abdul Kodir dikenal sangat tekun dan disiplin dalam belajar. Ia tidak hanya menguasai fikih mazhab Hanbali, tetapi juga mendalami ilmu tasawuf secara mendalam. Perpaduan antara syariat dan spiritualitas inilah yang kelak menjadi ciri khas ajarannya.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ia pernah menjalani masa-masa uzlah, menyepi dari keramaian kota Baghdad untuk memperdalam ibadah dan membersihkan hati.
Dalam banyak riwayat disebutkan, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam perenungan dan pengendalian diri. Fase ini membentuk karakter kepemimpinan spiritualnya yang kuat dan rendah hati.
Ketika kembali ke tengah masyarakat, Syeh Abdul Kodir tampil sebagai pendakwah yang memikat. Majelisnya di Baghdad selalu dipenuhi ribuan orang dari berbagai latar belakang. Ia berbicara dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh.
Pesannya tegas, tetapi tidak menyakiti. Ia mengingatkan tentang pentingnya kejujuran, ketakwaan, dan keikhlasan dalam setiap amal.
Sejarawan Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala mencatat bahwa pengaruhnya begitu luas hingga para pejabat dan ulama besar pun hadir dalam majelisnya. Ia dikenal berani menegur penguasa yang zalim tanpa kehilangan adab. Baginya, dakwah adalah amanah yang harus dijalankan dengan integritas.
Salah satu warisan terbesarnya adalah berdirinya Tarekat Qadiriyah, sebuah jalan spiritual yang menekankan keseimbangan antara syariat dan hakikat. Tarekat ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Asia Selatan, Afrika Utara, hingga Asia Tenggara. Di Indonesia, ajarannya diterima luas dan menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat.
Dalam sebuah kesempatan yang diriwayatkan murid-muridnya, Syeh Abdul Kodir pernah menegaskan bahwa inti dari perjalanan spiritual adalah memperbaiki hati. “Janganlah engkau mencari karamah, tetapi carilah istiqamah,” demikian salah satu pesan yang sering dikutip. Pernyataan ini menggambarkan orientasinya yang menempatkan konsistensi dalam kebaikan di atas keajaiban yang bersifat luar biasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
