Obat Alami Mencegah Sawit Diserang Kumbang Tanduk
Obat Alami Mencegah Sawit Diserang Kumbang Tanduk--
RADARMUKOMUKO.COM - Di sela barisan kelapa sawit yang menjulang rapi di Kabupaten Siak, Riau, seorang petani memeriksa pucuk-pucuk muda yang baru tumbuh. Ia menyibakkan pelepah dengan hati-hati, memastikan tidak ada lubang gerekan yang menjadi pertanda kehadiran kumbang tanduk.
Bagi para pekebun, serangga bernama Oryctes rhinoceros itu bukan sekadar hama, melainkan ancaman nyata yang dapat merusak harapan panen sejak tanaman masih belia.
Kumbang tanduk kerap menyerang tanaman sawit muda, terutama pada fase belum menghasilkan. Serangga dewasa menggerek pucuk dan memakan jaringan lunak, meninggalkan bekas lubang berbentuk huruf V pada daun yang membuka.
Jika serangan terjadi berulang, titik tumbuh bisa rusak permanen dan tanaman mati. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak kecil, apalagi bila serangan terjadi di areal peremajaan atau lahan baru dibuka.
Serangan biasanya meningkat pada musim hujan atau di kebun yang banyak menyisakan batang dan tunggul bekas tebangan. Kondisi lembap mempercepat perkembangan larva di dalam tumpukan bahan organik yang membusuk.
“Siklus hidup kumbang tanduk sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik sebagai tempat berkembang biak,” ujar Dr. Yudi Pranata, peneliti hama perkebunan dari sebuah lembaga riset pertanian di Sumatera Utara. Menurutnya, kebun yang tidak bersih menjadi habitat ideal bagi larva sebelum bermetamorfosis menjadi kumbang dewasa yang siap menyerang pucuk sawit.
Dalam beberapa dekade terakhir, pengendalian kumbang tanduk kerap mengandalkan insektisida kimia. Namun, penggunaan berlebihan menimbulkan persoalan baru, mulai dari resistensi hama hingga dampak lingkungan. Di tengah kesadaran akan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, banyak petani mulai melirik obat alami sebagai alternatif pencegahan.
Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan adalah pemanfaatan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae. Jamur ini bekerja dengan menginfeksi tubuh larva dan kumbang dewasa, kemudian berkembang di dalamnya hingga menyebabkan kematian.
Aplikasinya relatif sederhana, yakni dengan menaburkan atau menyemprotkan spora pada tumpukan bahan organik yang berpotensi menjadi sarang larva.
“Metarhizium efektif menekan populasi larva tanpa merusak keseimbangan ekosistem kebun,” jelas Yudi. Ia menambahkan bahwa penggunaan rutin dan konsisten dapat menurunkan tingkat serangan secara signifikan dalam beberapa musim tanam.
Selain jamur, ekstrak tanaman tertentu juga dimanfaatkan sebagai penolak alami. Daun mimba, misalnya, dikenal memiliki kandungan azadirachtin yang bersifat insektisidal dan menghambat pertumbuhan serangga.
Petani di beberapa wilayah Kalimantan mengolah daun mimba menjadi larutan semprot untuk diaplikasikan pada pucuk tanaman muda. Aroma dan senyawa aktifnya dipercaya mengurangi intensitas serangan kumbang dewasa.
Penggunaan feromon juga menjadi bagian dari strategi alami yang semakin populer. Perangkap feromon dipasang di beberapa titik kebun untuk menarik kumbang jantan maupun betina, sehingga populasinya dapat ditekan sebelum berkembang lebih jauh.
Cara ini tidak membunuh secara langsung, tetapi efektif mengurangi peluang perkembangbiakan. “Pendekatan ini lebih preventif. Kita mengendalikan populasi sebelum terjadi ledakan,” kata Irma Lestari, praktisi agronomi yang mendampingi kelompok tani di Rokan Hulu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: