Bahaya Jangka Panjang Jika Suka Kerja di Depan Laptop

Bahaya Jangka Panjang Jika Suka Kerja di Depan Laptop

Bahaya Jangka Panjang Jika Suka Kerja di Depan Laptop--

RADARMUKOMUKO.COM -  Di atas meja kerja yang rapi, layar laptop menyala sejak pagi dan kerap baru redup ketika malam telah larut. Jemari menari di atas papan ketik, mata terpaku pada deretan angka dan kalimat, sementara tubuh nyaris tak beranjak selama berjam-jam. 

Pola ini telah menjadi rutinitas banyak pekerja modern baik di kantor, di ruang kerja bersama, maupun di sudut rumah yang disulap menjadi tempat mencari nafkah. Di balik produktivitas yang meningkat, tersimpan risiko kesehatan jangka panjang yang sering kali luput disadari.

Perubahan besar terjadi sejak beberapa tahun terakhir ketika sistem kerja fleksibel dan jarak jauh kian lazim diterapkan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, ribuan pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya di depan laptop. 

Analis data, penulis, desainer grafis, akuntan, hingga mahasiswa tingkat akhir, semua memiliki kesamaan: duduk dalam waktu lama dengan tatapan terfokus pada layar.

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, dr. Maya Lestari, mengatakan bahwa keluhan paling sering muncul adalah nyeri punggung bawah dan leher.

 “Tubuh manusia tidak dirancang untuk duduk statis selama delapan hingga sepuluh jam setiap hari. Ketika posisi duduk tidak ergonomis dan dilakukan terus-menerus, otot serta sendi mengalami tekanan berulang,” ujarnya saat ditemui awal pekan ini.

Ia menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memicu gangguan muskuloskeletal kronis. 

Rasa pegal yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi nyeri menetap, disertai kekakuan otot dan penurunan fleksibilitas. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga produktivitas kerja.

Masalah tidak berhenti pada sistem otot dan tulang. Spesialis penyakit dalam, dr. Arif Nugroho, menyoroti risiko metabolik akibat gaya hidup sedentari. 

Duduk terlalu lama dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit kardiovaskular. “Ketika seseorang jarang bergerak, pembakaran kalori menurun drastis. Sirkulasi darah juga melambat, terutama di area tungkai,” jelasnya.

Dalam praktiknya, dr. Arif kerap menjumpai pasien usia produktif dengan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang mulai meningkat. 

Banyak di antara mereka bekerja di sektor perkantoran atau industri kreatif yang menuntut waktu lama di depan layar. Menurutnya, kebiasaan ini diperparah oleh pola makan yang tidak teratur dan minim aktivitas fisik.

Selain dampak fisik, paparan layar dalam durasi panjang turut memengaruhi kesehatan mata. Dokter spesialis mata, dr. Rina Mahardika, menyebut fenomena kelelahan mata digital semakin sering terjadi. 

“Pasien mengeluhkan mata kering, perih, dan sulit fokus setelah bekerja berjam-jam di depan laptop. Ini akibat berkurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: