Manfaat Makan Jengkol Serta Efeknya
Dikenal Miliki Aroma Mengat, Ini Manfaat untuk Tubuh Jika Suka Makan Jengkol--
RADARMUKOMUKO.COM - Aroma khasnya kerap lebih dulu menyapa sebelum wujudnya terlihat di atas meja makan. Bagi sebagian orang, jengkol adalah kenikmatan yang sulit tergantikan; bagi yang lain, ia menjadi bahan perdebatan panjang tentang bau dan dampaknya bagi tubuh.
Di balik reputasinya yang kontroversial, jengkol menyimpan kisah gizi, tradisi, sekaligus risiko kesehatan yang patut dipahami dengan jernih.
Di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Sumatera dan Jawa Barat, jengkol telah lama menjadi bagian dari hidangan rumahan. Ia disajikan dalam semur, digoreng balado, atau dipadukan dengan sambal segar.
Konsumsi jengkol tidak mengenal waktu khusus; ia hadir dalam santap siang keluarga hingga jamuan sederhana di warung makan. Tradisi ini tumbuh bukan tanpa alasan. Selain rasanya yang gurih dan teksturnya yang legit, jengkol dinilai memberi energi dan rasa kenyang lebih lama.
Menurut dr. Reza Mahendra, seorang fakar kesehatan yang ditemui dalam diskusi publik tentang pangan lokal di Jakarta, jengkol sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik.
“Jengkol mengandung protein nabati, serat, serta beberapa mineral seperti zat besi dan fosfor. Dalam jumlah wajar, ia bisa menjadi sumber energi tambahan,” ujarnya. Protein nabati tersebut membantu perbaikan jaringan tubuh, sementara seratnya mendukung kesehatan pencernaan.
Ahli gizi klinis, Nur Aisyah Pratama, menambahkan bahwa jengkol juga mengandung antioksidan alami. Senyawa ini berperan menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel.
“Kita sering hanya fokus pada aromanya, padahal secara komposisi, jengkol memiliki potensi manfaat jika diolah dan dikonsumsi dengan tepat,” jelasnya saat ditemui di Bandung beberapa waktu lalu.
Dalam konteks masyarakat pedesaan, jengkol bahkan menjadi alternatif sumber protein yang terjangkau. Ketika harga daging atau ikan meningkat, jengkol kerap menjadi pilihan pengganti yang lebih ekonomis. Kandungan karbohidrat kompleksnya juga memberi rasa kenyang yang bertahan cukup lama, sehingga membantu menjaga asupan energi harian.
Namun manfaat tersebut tidak dapat dilepaskan dari cara pengolahan dan jumlah konsumsi. Di sinilah sisi lain jengkol mulai berbicara.
Jengkol mengandung asam jengkolat, senyawa yang dalam kondisi tertentu dapat mengkristal di saluran kemih dan memicu gangguan yang dikenal sebagai jengkolan. Kondisi ini ditandai nyeri hebat saat buang air kecil, bahkan bisa menyebabkan gangguan ginjal jika tidak ditangani.
“Kasus jengkolan memang tidak selalu terjadi, tetapi risikonya nyata, terutama jika konsumsi berlebihan dan asupan cairan kurang,” tegas dr. Reza.
Ia menjelaskan bahwa asam jengkolat sulit larut dalam urin yang terlalu asam. Karena itu, minum air putih yang cukup sangat dianjurkan setelah mengonsumsi jengkol untuk membantu proses pengenceran dan pembuangan zat tersebut.
Efek lain yang paling sering dikeluhkan adalah bau menyengat pada napas dan urin. Bau ini berasal dari senyawa sulfur dalam jengkol yang terurai selama proses pencernaan. Meski tidak berbahaya secara medis, dampaknya bisa mengganggu kepercayaan diri dan interaksi sosial.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: